"Aku mau berangkat ke kampus, kasihin tugas." Suara Windi berbicara dengan seseorang di balik telepon itu.
"Mau anter? Emang kamu gak cape?" Dia berbicara kembali pada orang yang menelponnya. "Yaudah. Aku masih dirumah kok. Bye."
Percakapan itu usai. Windi menyimpan handphonenya ke dalam tas. Ia segera memakai sepatu.
Tiba-tiba terdengar suara klakson motor, dan yang Windi lihat ialah wajah Pandu. Pandu membuka kaca helmnya dan tersenyum pada Windi.
"Ibu, Windi berangkat. Assalamualaikum." Windi agak berteriak di depan pintu rumahnya. Ia takut terlambat. Segera ia menutup pintu dan menuju motor Pandu. Ia naik dan mereka pergi berlalu.
Dari kaca spion, Pandu menyadari satu hal. Windi tampak gelisah saat itu. Ia panik melihat jam sudah hampir pukul 10, yaitu dimana tugasnya paling terlambat dikumpulkan jam 10.30. Ditambah jalanan yang agak ramai ini, membuat ia takut terjadi kemacetan panjang atau hal-hal yang menyebalkan lainnya di jalan. Ia takut dosennya tidak menunggu lama.
"Kamu panik gitu. Tenang aja sayang. Aman kok," Pandu memulai percakapan.
"Iya aman, tapi itu dosen sekalinya jam segitu harus tepat jam segitu," jawab Windi.
"Ya mudah-mudahan aja hari ini dia sabar nunggu, ini juga bentar lagi sampe. Kamu pegangan aja," kata Pandu. Windi pun tanpa basa-basi memeluk Pandu dari belakang. Ia tahu apa yang akan Pandu lakukan. Dugaan Windi benar. Pandu akan memacu motornya sedikit lebih cepat dari sebelumnya. Meliuk-liuk disetiap belokan dan diantara mobil-mobil. Windi tak yakin akan selamat. Ia tetap berdoa dalam hati. Harapannya, semoga ia tak kenapa-kenapa hari ini. Semoga ia dan tugasnya selamat sampai tujuan.
Tak lama, Pandu memarkirkan motornya. Windi pun langsung membuka helmnya lalu turun dan menuju ruangan dosen. Seperti biasa, Windi gesit. Dia selalu cepat, memprioritaskan yang penting. Ia pun sedikit berlari menuju ruang dosen tersebut. Pandu dari motornya pun melihat punggung Windi yang semakin tertelan oleh mahasiswa yang berlalu lalang di koridor.
Selesai. Tugas yang Windi kerjakan tidak ditolak oleh dosen, walaupun ia telat satu menit penuh. Dosennya berbaik hati hari itu. Ia pun segera menuju tempat Pandu, di parkiran.
Di parkiran, Windi hanya melihat motor Pandu saja. Ia cari sekeliling parkiran fakultasnya, ia tak menemukan Pandu. Tiba-tiba ada seseorang yang berbisik di telinga Windi, suaranya berat seperti menyepertikan suara kakek-kakek renta. Windi kaget, ia pun segera berbalik dan yang ia lihat bukan seorang kakek, tapi Pandu.
"Rese! Aku kaget tau," kata Windi dengan kesal.
"Hahaha, maaf Windi. Ngambek gitu, jangan menyon dong!" Ujar Pandu sambil menggoda.
"Habisnya, jail banget. Udah ah, yuk pulang!" Windi mengajak Pandu melupakan hal barusan.
"Jangan dulu! Sekarang kamu yang anter aku ya," Pandu segera menaikki motornya dan memakai helm.
"Kemana?" Tanya Windi.
"Jangan banyak tanya, nih pake helm terus naik. Lo cukup sama gue aja hari ini! Sambil bermalam minggu," kata Pandu.
Windi pun menuruti semua perkataan Pandu. Dan segera ia menaiki motor.
Sampai. Mereka berhenti di salah satu toko peralatan menulis, menggambar dll. Toko yang cukup besar. Mereka pun memarkir motor, membuka helm mereka lalu pergi ke dalam toko tersebut.
Di toko itu, langkah Pandu lebih lebar dari biasanya. Windi mengikuti Pandu semampu yang ia bisa. Pandu pun menoleh kebelakang lalu meraih tangan Windi dan menuntunnya agar Windi tidak jauh dengannya.
"Sedikit kasar," ujar Windi.
"Maaf sayang," sambil berbisik pada Windi.
Pertemuan mereka selalu seperti ini. Pandu yang naik turun, Windi yang cuek tapi perasa. Meski seperti itu, mereka terlihat serasi, kompak. Meski tidak seromantis orang-orang.
Pandu menuju rak kertas-kertas gambar, lalu segera memilih-milih kertas apa yang ia perlukan. Windi pun ikut melihat-lihat. Meski ia kurang mengerti tentang alat gambar. Yang ia tau, ia suka menggambar tapi hanya untuk hobi saja. Hobi yang tidak ia perdalam.
Setelah mendapatkan kertas, mereka menuju tempat kuas. Pandu segera memilih kuas yang ia perlukan.
"Buat apa kuas sebanyak itu?" Tanya Windi.
"Buat mural," jawab Pandu.
"Emang mau mural lagi? Kamu gak cape apa? Kemarin sore latihan band terus pergi mural. Mural semalaman. Pulang pun pagi tadi. Take a rest Pandu! Kesehatan loe lebih berharga daripada mural!" Ujar Windi menasehati Pandu.
Pandu pun masih memilih-milih kuasnya. Ia belum merespon Windi.
"Heh, loe denger gak?" Kata Windi dengan nada sedikit naik.
Pandu pun melihat Windi, lalu menatapnya.
"Gak usah panik gitu! Gue gak apa-apa, tenang aja." Kata Pandu lalu tersenyum.
Pandu pun melanjutkan pencarian alat-alat gambarnya tersebut. Mereka hampir mengelilingi seluruh sisi toko tersebut. Selesai memilih-milih, mereka menuju kasir lalu meninggalkan toko tersebut.
"Aku mau nunjukin sesuatu sama kamu," kata Pandu sedikit teriak karena suara Pandu melawan suara semua kendaraan yang ada di jalan.
"Apaan?" Tanya Windi.
Pandu tidak menjawabnya. Ia pun langsung belok ke salah satu gedung yang terlihat sudah lama tidak dipakai dan terlihat sepi. Dibelakang gedung itu ada tembok yang luas dan masih utuh. Mereka kesana. Pandu memperlihat sesuatu pada Windi disana.
Mereka berhenti.
"Tuh," kata Pandu sambil menunjuk tembok tersebut.
Ditembok itu ada banyak lukisan mural. Entah karya siapa tapi itu indah.
"Keren," kata Windi sambil melihat semua lukisan di semua sisi tembok tersebut.
"Selanjutnya, aku diajakin mural lagi. Target yang kali ini di sebuah gang. Gak terlalu sempit, tapi yang lewat kesana agak rame. Sekarang temen-temen juga lagi pada siap-siap. Ijin dari RT setempat udah di tangan. Tinggal kitanya aja mempersiapkan diri," kata Pandu.
"Hmm..." Windi sambil mengangguk.
"Aku ada rencana, mau gambar muka loe mural ntar. Hahaha." Kata Pandu. Windi pun hanya tersenyum dengan perkataan Pandu tersebut. Hatinya senang bukan main. Ia tak menyangka, Pandu memiliki sisi romantis yang berbeda dengan pria lain.
Minggu pagi. Windi tak berencana apa-apa. Minggu ini ia habiskan untuk nonton tv dan cek setiap sudut di handphonenya. Hari-hari yang lalu, ia tidak banyak mengecek HPnya. Ia sibuk dengan tumpukan tugas.
Ke atas ke bawah. Layar sentuhnya digeser ke atas ke bawah. 2x tap, klik ini klik itu. Baca ini baca itu. Sampai-sampai ia terdiam. Ia pun langsung bergegas mengambil jaket dan menuju garasi rumahnya. Menaiki dan menyalakan motor lalu pergi tanpa pamit pada orang rumah.
Rumahnya tak jauh dengan tujuannya. Beda beberapa blok dengan rumahnya. Sesampainya disana ia memarkirkan motor lalu menuju ke sebuah rumah dan mengetuk pintunya.
Tak lama, pintu itu di buka oleh wanita paruh baya. Ia pun mempersilahkan Windi untuk masuk. Windi pun langsung membicarakan kepada siapa ia kemari. Wanita itu pun menunjuk salah satu kamar di lantai dua pada Windi. Windi pun segera menuju kamar yang ditunjuk tersebut. Wanita itu mempersilahkan Windi.
Pintu kamar itu tidak terkunci. Windi pun masuk lalu melihat dalam kamar. Ada seseorang yang tertidur. Sangat pulas. Windi pun masuk kamar itu, berniat untuk membangunkan orang itu.
"Bangun woy! Udah pagi!" Teriak Windi sambil menggoyang-goyangkan badan orang itu.
"Ayo bangun! Cepet!"
"Berisik!" Keluh Pandu.
"Pandu Cahya Ramadhan! Kebo! Udah pagi ini!" Kata Windi.
"Masih ngantuk." Pandu mengeluh lagi.
"Loe liat samping kasur loe, tuh. Di meja udah ada sarapan buat loe. Mamah loe yang bikin, gak kasihan apa?"
"Hmm... Iya 5 menit lagi," Pandu pun menarik selimutnya kembali.
Windi pun diam. Melihat Pandu yang sekarang kembali ke bawah selimutnya. Ia pun duduk. Melihat sekitar kamar Pandu. Berantakan kacau. Apa yang Pandu lakukan semalam.
Windi melihat buku-buku yang tergeletak di lantai dan di atas meja. Ia merapihkannya sebisanya. Mejanya pun dipenuhi dengan gambar-gambar hasil karya Pandu. Sebagian ada yang ditempel di dinding kamarnya. Windi melihat-lihat semua gambar itu. Ada lukisan, sketsa, dll.
"Ngapain?"
Suara Pandu itu membuat Windi kaget. Windi menoleh dan melihat Pandu yang kini matanya mulai membuka.
"Mau coba beresin, kali aja di gaji sama yang punya kamar," kata Windi.
"Hmm..." Pandu pun bangun. Ia duduk di kasurnya. Sementara Windi masih tetap melihat gambar-gambar itu.
"Udah, simpen aja," kata Pandu.
Windi pun menyimpannya dan duduk didekat Pandu.
"Kok gak ngabarin mau ke rumah?" Tanya Pandu.
"Emang gak di rencana," jawab Windi.
"Aku mandi dulu ya," kata Pandu lalu ia berdiri menuju kamar mandi dengan jalan yang seloyongan.
Windi pun mengangguk tersenyum. Ia pun melihat Pandu yang kini berjalan menuju kamar mandi. Ia heran Pandu berjalan seloyongan seperti itu yang menurut Windi itu parah. Kini Windi pun cemas. Ia merasa ada yang tidak beres dengan Pandu.
"Gimana udah ganteng kan?" Kata Pandu sambil keluar dari kamar mandinya.
"Tuh rambutnya rapihin!" Kata Windi.
Pandu pun mencari sisir rambut, lalu ia bercermin.
"Ntar aja deh, masih basah rambutnya," kata Pandu. Ia pun duduk kembali di kasur yang sudah rapih dibereskan Windi.
"Tumben banget loe care? Hahaha," kata Pandu.
"Dari pada berantakan terus, gue rapihin aja. Lagian aneh deh, tumben banget kamar berantakan kaya rumah kebakaran gini? Berpakaian loe kan rapih, masa..."
"Mau sarapan?" Pandu memotong pembicaraan Windi. Lalu ia membawa sepiring sandwich yg sudah di siapkan oleh ibunya. Windi pun diam dan menggelengkan kepalanya. Ia sudah sarapan, ia tidak ingin sadwich itu. Ia juga tidak ingin pembicaraannya dipotong. Windi sedikit kesal.
Mereka putuskan untuk menghabiskan waktu berdua di halaman belakang rumah Pandu. Ada taman di halaman belakang rumah Pandu itu. Ada rerumputan yang bersih dan rapih, juga pohon yang tidak terlalu tinggi dan disertai bunga-bunga. Suasananya asri, segar. Pandu membawa alat gambarnya dan menggambar disana. Sementara Windi, ia membawa sebuah novel milik Pandu lalu membacanya. Mereka duduk di rerumputan.
Windi membaca di keheningan. Dia fokus dengan bacaannya. Sampai-sampai fokusnya pecah setelah ia ingat maksud tujuan ia ke rumah Pandu. Windi harus mengungkapkan apa tujuannya datang kemari.
Ia melihat Pandu sedang konsentrasi menggambar.
"Gambar apa?" Tanya Windi.
"Coba gambar..." Pandu tidak melanjutkan. Ia tak yakin gambar apa atau siapa ini. Windi mengintip gambar Pandu. Ia lihat sketsa seseorang. Baru seperempatnya Pandu menggambarnya, jadi Windi tak yakin itu sketsa siapa. Mungkin Pandu latihan membuat sketsa wajahnya, pikir Windi.
"Pandu..." Windi memanggil.
"Hmm..." Suara Pandu masih sambil menggambar.
"Kemarin loe minum?" Tanya Windi dengan nada yang gugup, ia hati-hati berucap.
Tak ada kata, tak ada jawab. Pandu masih bungkam dan menggambar.
"Maaf kalo pertanyaann gue bikin loe tersinggung, tapi gue cuma mau mastiin aja," lanjut Windi.
"Gak apa-apa. Aku gak minum," jawab Pandu.
"Hmm... Aku pengen mastiin aja. Aku heran liat kamar kamu berantakan, terus kamu ngebo ditambah..." Windi ragu melanjutkan pembicaraannya.
"Ditambah, aku lihat temen kamu kemarin malem check in di path dan tag kamu, kalian di bar malem kemarin," Windi melanjutkan dengan nada penuh hati-hati.
Pandu diam. Tangannya berhenti menggambar. Dia tak pandai berbohong.
"Pandu..." Panggil Windi.
"Iya aku minum," jawab Pandu sambil melihat mata Windi yang dari tadi ia sadari sepasang mata itu memperhatikannya.
"Kamu kenapa? Ada masalah?" Tanya Windi.
Pandu pun hanya diam. Ia melanjutkan kembali gambarnya itu. Windi sangat heran. Apa yang ada di pikiran Pandu.
"Kalo ada masalah, cerita sama aku. Aku gak mau liat kamu kaya gini! Kemarin siang kamu senyum sama aku, sekarang di ajak bicara, kamu lihat mata aku pun gak." Kata Windi.
Hening. Tak ada jawab, tak ada sepatah kata apapun yang Pandu keluarkan. Ia diam. Masih diam. Tangannya masih menari-nari di atas gambar itu. Ia bingung apa yang harus ia katakan, ia takut menyakiti Windi dengan apa yang ada dihatinya. Ia masih fokus pada gambar itu. Menuangkan apa yang terinspirasi, apa yang ada dalam hatinya. Windi pun melanjutkan membaca buku. Ia diam saja, mungkin ada waktunya Pandu akan bercerita padanya.
Sudah hampir setengah bagian dari buku itu, ia mulai lelah. Matanya merasa kantuk. Ia melihat Pandu yang diam sambil menatap gambarnya.
"Udah beres? Sini aku lihat!" Kata Windi.
"Gak, belum beres. Ada yang salah," jawab Pandu sambil menjauhkan gambarnya dari pandangan Windi.
"Mana lihat dulu? Kalo salah hapus aja yang bagian salahnya. Sini!" Windi mencoba meraih gambar itu.
Pandu tetap tidak ingin memperlihatkan gambarnya, sementara Windi bersih keras meraih gambar itu dan mencoba merebutnya dari tangan Pandu.
Gambar itu jatuh. Terlempar dari tangan Pandu. Windi segera melihat gambar yang terbuka itu. Ia mengamati gambarnya dan mencoba mengetahui apa yang Pandu gambar.
"Windi jangan dilihat!" Kata Pandu. Tangannya meraih gambar itu. Tapi tangan Windi menepis tangan Pandu dan menghalangi Pandu mendekati gambarnya.
Windi meraih gambar itu. Menatap sketsa yang ada pada gambar. Sketsa seseorang. Hampir selesai. Ia tak tahu sketsa siapa.
"Ini siapa?" Tanya Windi.
Pandu diam.
"Ini siapa Pandu?" Tanya Windi kembali.
Windi melihat mata Pandu. Pandu memalingkan pandangan. Windi pun melihat kembali gambar itu. Itu bukan sketsa wajahnya. Tapi seseorang. Bukan dia, bukan Pandu. Sketsa seorang wanita. Ibunya? Bukan. Lalu siapa?
Windi melihat ada hurup A di bawah sketsa itu. Ia yakin gambar itu bukan untuknya. Lalu, ia simpan gambar itu di rumput. Dan menatap Pandu. Berharap ia membalas tatapannya. Tak lama Pandu menatap Windi. Menatap mata yang mulai berkaca. Windi akan menangis, pikirnya.
"Maaf," kata Pandu.
Windi bungkam. Ia hanya menatap Pandu. Ia heran. Kenaik turunnya Pandu dan sketsa ini. Lalu apa yang dipikirkan Pandu? Apa masalah yang ia hadapi tentang orang yang ada di sketsa ini?
"Aku pergi," dengan nada lirih. "Sukses muralnya nanti, jaga diri! Bye." Lanjut Windi. Ia pun pergi tanpa menunggu jawab dari Pandu. Ia kecewa saat itu. Ia tak tahu harus apa. Mungkin Windi akan pergi, menghilang dari Pandu. Tapi ia peduli. Perasaanya tak cukup kuat.
Pandu terdiam. Ia melihat punggung Windi. Berharap ia menoleh, tapi tidak. Ia tahu, Windi kecewa. Ini salah sketsa. Bukan. Bukan salah sketsa tanpa nama ini. Ini salah hatinya, hatinya yang membayangkan wajah wanita itu. Wanita yang ada dihatinya. Sampai kapan pun.