Selasa, 19 April 2016

Garunggang Kulon

Ada hal yang aku senangi di tempat ini
Awalnya, aku hanya lewat, lihat-lihat
Tapi sekarang jadi terikat
Aku hidup disini, bangun tidur disini, tidur disini
Tapi ada yang aku tak senangi
Melihat gang kecil itu, melihat dinding kamar itu, melihat papan reklame besar di depan gang itu, melihat trotoar dekat gang itu, aku teringat juga suara motornya, yang dulu bukan yang sekarang
Yang menungguku pulang, yang mengantarkanku ke tempat ini, yang menjemputku, yang menungguku mau keluar hingga esok subuh
Itu kenangan
Saat ini, aku pendam kenangan itu
Indah, memang.
Ingin merasakan lagi, iya.
Tapi pikiranku berbisik, "apa keindahan kenangan itu hanya ia lakukan padamu saja?"
Lalu aku menjawabnya dengan diam.

Minggu, 20 Maret 2016

Si Lucu

Aku Azmi, panggil saja Ami. Duduk di kelas 11 yaitu kelas 2 SMA. Ini kelas baru, semester baru, jadwal baru, dan teman-teman baru. Sekolahku sistemnya setiap kenaikan kelas, kelasnya diacak siswanya. Jadi kita bisa lebih tahu banyak teman.
Aku duduk di bangku yang kedua dari depan. Bersama temanku, Indah. Ada beberapa teman yang dulu pernah sekelas bersamaku. Tapi ada pula siswa dari kelas lainnya. Mereka ada yang mengenaliku ada juga yang tidak. Kebanyakannya sih, tidak. Termasuk Ija. Namanya Fachrija, tapi katanya ia lebih suka dipanggil Ija. Orangnya lucu, dan berikut adalah kelucuannya.
Pelajaran demi pelajaran kami lalui. Hari demi hari kami lalui. Dari mulai kimia, fisika, biologi dan matematika. Aku hampir setengah stres. Tapi banyak faktor yang membuat aku bisa terus semangat. Indah juga salah satu teman sebangku yang tidak lupa mengingatkanku akan PR, jadwal ulangan harian, dan kita berdua banyak sharing soal pelajaran. Aku suka dia.
Hari itu, Rabu 20 November 2013. Pelajaran hari itu ialah Pendidikan Kewarganegaraan (KWN), Kimia dan Matematika. Dan hari itu adalah hari dimana LKS (lembar kerja siswa) mata pelajaran KWN dikumpulkan untuk dinilai oleh guru. Aku mengumpulkan LKS-ku. Indah juga. Yang lainnya juga. Tiba-tiba Ibu Laras memanggil sebuah nama.
“Fachrija?” kata Bu Laras dengan nada bertanya.
Ija pun berdiri tapi dia masih diam ditempatnya. Ibu Laras melihatnya.
“Kamu Fachrija?” tanyanya.
“Iya Bu,” jawab Ija.
“Kepanjangannya ini… Fachrija Tampan.” Kata Bu Laras.
Sontak aku dan yang lainnya tertawa. Kelas jadi agak ricuh saat itu. Ada yang ledekin Ija ada yang  ketawain Ija. Macem-macem. Ketika suara tawaan kita terhenti, Ija pun mulai menjelaskan.
“Nama adalah sebuah doa, Bu. Semoga aja dengan kata tampan dibelakang nama saya, itu bisa membuat saya tampan.” Jelas Ija.
Hahaha. Kami semua tertawa kembali.
“Ini bukunya ambil. Cepat perbaiki namanya!” Kata Bu laras
Ija pun berjalan kearah meja guru. Lalu mengambil bukunya dan kembali ke bangkunya.
Pelajaran telah usai. Bel pun berbunyi tanda waktunya istirahat. Seperti biasa, sebagian menyerbu kantin sebagian diam dikelas. Hari itu aku bekal makanan jadi tidak pergi ke kantin. Indah pun bekal makanan juga. Ia terus menemaniku. Segerombolan kawan sedang berkumpul di bangku belakang. Aku pikir itu anak-anaknya Ija. Ternyata benar. Mereka asyik mengobrol.
“Eh, Ja, nama kamu beneran ganti?” Tanya Rangga.
“Ah, iya. Itu doa.”
“Doa apa, Ja?”
“Doa biar Ija tampan, berdampingan dengan Azmi cantik.”
Kata-kata itu terdengar hingga ke seluruh sudut ruangan kelas. Sontak aku berhenti mengunyah. Lalu menoleh ke arah Indah. Dan dia bilang bahwa itu suara Fachrija. Aku pun menoleh ke belakang, tepatnya ke arah Ija. Dia tersenyum mendapati aku melihatnya. Aku berbalik kembali kearah bangku. Aku terkejut lalu tidak membalas senyumnya. Dia terkadang membuat aku salah tingkah. Dan ini adalah salah satu kelucuannya. Disertai dengan kejahilannya menggelitik hati.
Tiba-tiba dia menghampiriku, dan memulai percakapannya.
“Makan yang banyak ya Azmi! Besok aku mau futsal, kamu bawa bekelnya 2 porsi ya buat aku 1,”Katanya.
Lalu ia berlalu pergi keluar kelas. Anak-anak yang ada di kelas pun melihat ke arahku dan Ija saat itu. Aku tidak tahu harus bersikap apa.
Besoknya seperti biasa belajar dari pagi hingga siang. Tapi ketika jam pelajaran terakhir, saat itu jam pelajaran kosong. Gurunya sedang sakit. Anak-anak diam di kelas. Sebagian ada yang membaca buku, mengobrol, dan ada yang bermain kartu remi. Itu salah satu kenakalan yang dilakukan oleh teman-teman sekelas khususnya laki-laki. Ija pun menjadi salah satunya. Aku memilih untuk mengobrol bersama Indah. Tiba-tiba dari arah teman-teman yang bermain kartu remi, mereka berteriak-teriak.
“Kamu kalah, hayu hukum, teman-teman.” Sorak seseorang
“Iya kalem, sok apa hukumannya?” Itu suara Ija.
“Hukumannya... nyanyi aja. Tapi harus bagus. Kalo gak bagus, kamu di iket di tiang bendera.” Kata seseorang.
“Iket aja langsung.”
“Temen-temen pengen denger suara orang tampan tuh,” kata Agung meledek.
“Oke. Rangga, bantuin! Pinjem gitar di kelas sebelah.” Kata Ija.
Rangga pun membawa gitar ke kelas sebelah lalu kembali ke kelas. Ia langsung menghampiri Ija yang telah berdiri di depan kelas. Lalu, Ija pun berbisik pada Rangga. Mungkin dia memberikan judul lagu apa yang ia akan nyanyikan.
Lalu mereka mulai. Lagu yang Ija nyanyikan adalah lagu Dealova-nya Once. Ditemani petikan melodi gitar oleh Rangga. Dan saat itu juga, aku baru sadar kalau suara Ija lumayan bagus.
Tiba di lirik reff, Ija pun bernyanyi dengan ditonton teman sekelas. Tiba-tiba Ija menghampiriku.
“Kau seperti nyanyian dalam hatiku yang memanggil rinduku padamu ooo...”
Ija meraih tanganku. Aku otomatis berdiri. Semua mata melihat ke arahku dan Ija. Mukaku merah pada saat itu. Aku benar-benar malu. Seperti diperlakukan romantis dan seperti menjadi orang yang istimewa oleh Ija. Hari itu, ada perasaan yang mengalir begitu saja.
Sepulang sekolah, aku mengunjungi perpustakaan. Mencari buku untuk tugas ditemani oleh Indah. Setelah memilih-milih buku, aku sempatkan membaca terlebih dahulu sambil menunggu ayahku menjemput. Tiba-tiba ada seseorang datang menghampiriku dengan langkah agak berlari.
“Ami, itu Ija futsal terus kaya yang berantem,” katanya dengan nafas terengah-engah.
Aku tidak berkata apa-apa. Aku hanya langsung berlari keluar perpustakaan dan menuju lapangan. Indah pun mengikutiku.
Di lapang, pandanganku menyapu seluruh sudut lapangan. Aku tak menemui anak-anak kelas disana. Lalu, Indah berteriak memberitahuku kalau teman-teman ada di dalam kelas. Aku berlari menyusul.
Tanpa sepatah kata, aku langsung menemui Ija yang tengah duduk. Ia menatapku lalu tersenyum.
“Kenapa?” tanyanya.
“Kamu berantem? Kamu gak apa-apa?”
“Kamu jangan khawatir! Bukan berantem, Cuma dorong-dorong dikit.”
“Gara-gara apa?”
“Gara-gara celanaku sobek. Lihat!”
Ija pun memperlihatkan celananya yang sobek. Ia mengangkang sedikit. Teman-teman yang masih di dalam kelas pun tertawa. Aku pun tertawa.
“Bawa bekal makanan lagi gak?” tanya Ija.
“Gak, Ja. Ami lupa,”
“Yaudah, gak apa. Kamu mau pulang? Aku antar ya!” Ajak Ija.
“Gak usah, aku nunggu jemputan.”
“Gak apa aku anter ya,” Ija pun berdiri lalu meraih tasnya.
“Aku ambil dulu buku-bukuku di perpus ya,” aku langsung berlari menuju perpus dan kembali ke kelas.
Saat aku kembali, Ija sudah siap dengan jaketnya dan memakai tasnya. Aku pun pamit pada Indah juga teman-teman yang lain.
Sembari jalan menuju halaman parkir sekolah, aku mengetik pesan untuk ayahku agar tidak usah menjemput. Lalu aku menyimpan handphoneku kembali dan melihat Ija berjalan di depanku. Aku pun menyusulnya. Kita berjalan berdampingan.
Di perjalanan pulang, cuaca mulai mendung. Ija memakai helm sedangkan aku tidak. Ia minta maaf karena tidak mempersiapkan apapun saat ia mengantarku pulang. Aku bilang itu tidak apa-apa.
Tiba-tiba hujan turun saat setengah perjalanan lagi menuju rumah. Kita putuskan berteduh di depan sebuah mini market.
“Tunggu hujan reda ya,” katanya.
“Hah? Apa? Gak kedengeran,” kataku dengan nada gak teriak.
Saat itu hujannya deras sekali. Sampai-sampai aku bicara pada Ija dengan nada berteriak.
“Kamu mau jajan dulu?” tanya Ija
“Apa?” kataku.
“Mau jajan dulu?” kata Ija dengan nada sedikit teriak dan berusaha berbicara agak dekat dengan telingaku.”
“Gak, makasih.” Kataku singkat
“Kalo jadi pasanganku, mau?”
“Apa, Ja?”
“Budeg! Gak jadi. Hahaha.” Ia pun tertawa.
Aku tersenyum karena tidak mendengar kata itu dengan jelas. Tadinya aku memastikan, tapi ia malah tidak mengatakannya lagi.
Hujan pun agak sedikit reda. Aku mengajaknya untuk pulang. Ia pun kembali mengantarkanku.
Hujannya menjadi gerimis. Baju kami berdua mulai basah. Padahal Ija menyimpan jas hujan di motornya. Katanya ia kuat hanya dengan menggunakan jaketnya saja.
Sampai dirumah, aku mengajaknya untuk masuk dulu kerumah. Ia mau lalu memarkirkan motornya di halaman rumah. Aku masuk lalu Ija menyusul masuk. Aku membawakan handuk untuknya lalu kembali ke dalam kamar untuk berganti pakaian. Setelah selesai, aku segera menemui Ija di ruang tamu.
“Ja, aku buatin minuman hangat ya,”
“Iya boleh, mau aku temenin?”
“Gak usah, Ja,” aku pun berjalan ke dapur.
Aku membawakannya teh manis hangat. Ia langsung meminumnya. Katanya itu kesukaannya. Lalu aku memperhatikan sikap duduknya. Ia seperti tidak nyaman untuk duduk. Iya, itu karena celananya sobek. Aku pun membawa celana training yang masih longgar ketika aku yang mengenakan. Saat itu juga berbarengan dengan datangnya ibuku. Ia langsung mengucapkan salam dan berkenalan dengan Ija. Ia juga menyuruhku untuk membuatkan lagi minuman untuk Ija.
Ija pergi mengganti celananya lalu kembali ke ruang tamu. Aku pun kembali ke ruang tamu sambil membawa lagi teh manis hangat.
“Kenapa bisa sampai sobek gitu, Ja?” aku memulai percakapan.
“Oh, ini karena aku menerima umpan lambung. Aku melebarkan kakiku sampai celanaku jadi begini. Hahaha.”
“Kamu ini! Kalau hobi, harus hati-hati.”
“Iya, hobiku kan ini. Nyobekin celana. Hahaha.”
“Hahaha.”
“Mamahku juga hobi. Hobi jahitin celanaku yang sobek lagi sobek lagi.”
“Hahaha.”
Sore itu, aku sangat suka cara bicaranya dan tertawa bersamanya. Itulah potongan kecil kelucuannya.
Esoknya, aku kurang enak badan. Mungkin karena kedinginan kemarin. Aku istirahat dirumah. Beberapa teman menghubungiku, menanyakan keadaanku dan juga memberitahuku PR hari itu.
Siangnya, ada yang datang. Itu Ija dan Rangga. Yang mengetuk pintu adalah Rangga. Aku membukanya dan mempersilahkan mereka masuk.
“Gak usah, jangan masuk Ga! Biar Ami istirahat. Ini Ija bawain ini buat kamu,” kata Ija yang masih berdiri di samping motornya lalu membawa sebuah kantong kresek dari motornya itu.
“Ini.”
“Ija masuk dulu. Gak enak, masa ngasihin sesuatu tapi orangnya diem diluar.” Kataku.
Ia pun masuk bersama dengan Rangga. Aku membuatkan mereka minum. Untungnya aku masih bisa melakukan hal-hal kecil itu, karena aku bukannya sakit, tapi kurang enak badan.
“Ada apa?” kataku sambil menyimpan gelas di atas meja ruang tamu.
“Tuh... Si Ija ini mah. Aku cuma nganter doang.” Kata Rangga.
Ija tersenyum malu.
“Panggilin temen-temen yang lain juga, gak apa-apa kok,” kataku.
“Beneran, Mi?” tanya Rangga.
Aku menjawabnya dengan mengangguk dan tersenyum. Lalu Rangga pun permisi keluar untuk menghubungi semua teman-teman. Rangga agak lama diluar tepatnya di teras rumahku. Sementara itu, ada ucapan Ija yang tak pernah diduga.
“Azmi, kamu gak jawab pertanyaanku kemarin.”
“Yang mana, Ja?”
“Langsung aja ya, kamu harus mau jadi pasanganku!”
Sontak aku diam disana. Aku takut telingaku salah menerima kata-kata. Itu bukan pertanyaan tapi pernyataan. Pernyataan kalau aku harus mau bersama Ija. Yang aku terima itu saja. Aku bingung, tak tahu harus bicara apa.
“Ja...”
“Iya?”
“Aku harus jawab apa?”
“Gak usah jawab.”
“Tapi... Azmi gak bisa.”
“Iya, Mi. Tapi kita tetep jadi pasangan, pasangan yang harus sehat. Jangan sakit-sakitan! Kamu harus makan, minum obat. Ini Ija, bawain kue sama... boneka. Ija harap Ami suka.” Katanya sambil membuka isi kantong kresek besar itu.
“Ja...”
“Iya Mi, Ija ngerti. Ija sependapat sama kamu.”
Lalu masuklah Rangga dan melihat ada boneka di tangannya Ija. Ia hampir tidak percaya Ija bisa bawakan aku sebuah boneka. Ia tertawa.
Beberapa saat kemudian, teman-teman yang lain tiba. Mereka memarkirkan motor di halaman rumahku lalu masuk. Mereka membawakanku makanan, tapi makanan itu aku hidangkan untuk mereka. Saat itu, kami memakannya bersama hingga sore tiba. Hujan yang mulai mengguyur membuat mereka lama tinggal. Membuat percakapan kami berputar dan terus mengalir tanpa henti. Lelucon Ija dan Agung mendominasi membuat kami semua tertawa. Dan yang aku tangkap saat itu, Ija tidak kecewa terhadap apa yang jadi pilihanku. Ia sependapat. Dan ia pun mau menjadi teman baikku dan tak pernah lupa membuat aku tersenyum sepanjang harinya disekolah. Meski beberapa leluconnya itu menyebalkan, tapi aku suka dia dengan segala yang ia miliki. Dengan segala kelucuannya. Iya, dia lucu.

Hai, Preman

“Panitia kompetisi futsal diharapkan mengikuti rapat sekaligus technical meeting pertama sepulang sekolah di ruangan OSIS. Terima kasih”
Itu adalah isi pesan singkat yang Diva buka pagi itu, tepat saat ia tiba di sekolahnya. Ia tidak membalas pesan itu. Ia pun segera masuk ke kelasnya. Belajar dari pagi hingga waktu pulang sekolah tiba.
Sepulang sekolah, ia pergi ke ruangan OSIS. Disana, Diva sudah mendapati teman-temannya. Sebagian sudah mengumpul, sebagian lagi belum bubaran.
“Kita mulai aja ya, sambil nunggu yang lainnya. Soalnya pukul 4 sore, kita mau techmeet sama perwakilan tiap kelas.” Kata ketua pelaksana.
Mereka rapat dengan tenang, tidak terlalu serius. Ada sela-sela waktu dimana mereka bisa bercanda. Diva sangat menikmati.
Lalu tepat pukul 4, dilanjutkan dengan technical meeting bersama perwakilan kelas. Ruangannya berpindah jadi di kelas XI Ipa 1, tepat di sebelah ruangan OSIS. Disana sudah datang perwakilan tiap kelas. Diva masuk dan ia duduk diantara teman-temannya.
“Assalamu’alaikum. Maaf terlambat,” kata seseorang yang baru datang.
“Gak, Kang. Silahkan masuk. Baru mau dimulai kok,” kata ketua pelaksana.
Diva memandangi sosok yang baru datang itu. Ia menyadari itu kakak kelasnya. Ia pun memperhatikan penampilannya. Dan ia menyadari penampilan kakak kelasnya itu tidak mentaati peraturan sekolahannya. Rambutnya agak gondrong, dan seragamnya tidak dimasukan ke dalam celana.
Techmeet dimulai. Dan berlangsung hingga pukul 5 sore.
Diva pamit kepada teman-teman yang lain. Ia pun menyusuri koridor dan menuju gerbang. Sesampainya di gerbang, ada seseorang yang menyapanya.
“Hey, panitia ya?”
Diva menoleh, “Eh, iya?”
Ia mengenalinya. Itu adalah kakak kelasnya yang tadi terlambat datang ketika techmeet.
“Mau pulang bareng?” tanyanya.
“Gak, Kak. Makasih.”
“Beneran?”
“Iya gak apa-apa Kak,”
“Yaudah, saya duluan ya. Kamu hati-hati!” katanya sambil menghidupkan motornya lalu berlalu pergi.
Diva baru menyadari, kakak kelasnya yang seperti preman itu ternyata baik dan murah senyum.
Esoknya, Diva agak sibuk. Ia mencari sumber referensi untuk tugasnya di perpustakaan. Ia menemukan buku yang ia inginkan, tepatnya di rak paling belakang di ujung dan dibagian bawah. Ia pun membuka-buka bukunya itu, membaca sekilas di lantai dan ia pun duduk di lantai. Tiba-tiba, ia melihat ada sepatu dekat dengan tempat ia duduk. Ia pun melihat orang yang mengenakan sepatunya, pandangannya melihat ke arah atas. Ia mendapati kakak kelas yang ia sebut si preman itu. Kakak kelasnya itu tengah melihat-lihat buku dan mengenakan headseat di telinganya. Ia pun menyadari ada yang melihatnya dan mendapati Diva yang tengah melihatnya. Ia pun mendekati Diva dan jongkok dekat Diva.
“Yang kemarin ya? Kamu ngapain duduk di lantai?”
“Eh, kakak. Ini, Kak. Eee...”
“Saking rajinnya ya, lanjutkan ya de,” katanya sambil tersenyum.
Si preman itu pun berdiri lalu pergi meninggalkan Diva. Diva pun sadar kalau ia malu dan mungkin mukanya memerah. Ia pun melanjutkan mencari referensi tugasnya.
Kompetensi futsal pun di mulai. Diva dan teman-teman OSISnya menjadi panitia. Ia diberikan tugas di bagian P3K bersama 3 orang teman lainnya dan teman-teman dari PMR juga. Ia bersiap di sisi lapangan.
Siang itu, siang yang agak panas. Diva pun sudah mulai kelelahan. Ia pun duduk di bawah mengenai tanah dengan mata lelahnya. Tiba-tiba ia merasakan ada seseorang yang memperhatikannya. Ia pun menoleh ke arah kananya dan mendapati si preman memandanginya. Si preman itu langsung menghampirinya dan ikut duduk di samping Diva.
“Kamu cape ya? Ini minum de,” kata si preman sambil menyodorkan botol minum ke Diva.
“Eh iya, Kak. Makasih,”
“Semangat ya ade panitia,” kata si preman sambil ia memegang kepala Diva lalu tersenyum.
Diva membalas senyumannya. Dan si preman pun berdiri lalu pergi menuju teman-temannya. Pandangan Diva pun menuju ke arah punggung si preman. Ternyata orang itu peduli padanya, dan itu adalah perasaan yang aneh yang ia rasakan saat itu.
Kompetisi dimulai kembali. Para penonton masih memadati lapangan sekolah. Diva masih berada di pinggir lapangan. Jam 14.00, tim kelas 12 bermain. Dan yang bermain saat itu adalah kelasnya si kakak preman.
Permainan berjalan agak tegang. Satu atau dua orang pemain ada yang terbawa emosi. Tiba-tiba satu pelanggaran tertuju pada kakak preman itu. Dan ia pun membalasnya. Disitu agak memanas permainan. Ada sedikit adu pukul. Diva berdiri melihat apakah ada yang terluka atau tidak. Para panitia yang lelaki mencoba untuk memisahkan pemain yang adu pukul. Setelah kerumunan tim pemisah itu agak menjauh dari tkp, Diva melihat si preman itu terluka di bagian pelipis, pinggir mulutnya dan kakinya. Dia hampir penuh dengan memar. Diva pun mengajak tim PMR untuk ikut membantu menolong si preman. Sementara teman-teman yang lain mencoba menolong pemain lain yang terluka. Diva pun segera menuju si preman. Mencoba membuat si preman berdiri. Ia menuntunnya ditemani dengan rekan PMR lain. Mereka pun ke pinggir lapangan untuk melakukan pertolongan pertama.
“Kak, sebentar ya, di obat dulu.” Kata Diva.
“Gak usah, gak usah.” Si preman menolak.
“Memarnya kak… Sebentar kok.”
Si preman pun duduk dengan nafasnya yang masih terengah-engah. Diva mencoba mengobati memar-memar yang ada di wajahnya.
“Udah selesai kak, maaf kalo sakit.”
“Gak apa. Makasih de.” Kata si preman sambil tersenyum.
Diva pun segara membereskan alat-alat P3K lalu berdiri untuk kembali ke dekat panitia lainnya.
“Eh, mau kemana? Temani saya, disini aja.” Kata si preman.
“Eh, tapi aku mau kesana kak.”
“Gak usah, disini aja. Lagian pertandingannya juga bentar lagi udahan.”
“Eh, gak apa-apa emang kak?”
“Gak apa. Sini!”
Diva pun duduk di samping si preman. Ia tidak tahu akan seperti ini. Dadanya berdegup dengan irama yang agak aneh. Dia tidak tahu apakah ini gugup atau dia kelelahan.
Kompetisi hari itu selesai. Paniti dia akhri acara melakukan evaluasi. Setelah evaluasi, Diva pulang. Sekolah mulai senyap sore itu. Ia pun segera berpamitan dan menuju gerbang untuk pulang.
Di gerbang, ada suara yang memanggilnya dari arah belakang.
“Diva!”
Diva pun menoleh ke arah belakang dan mendapati si preman menuju ke arahnya dengan berjalan agak pincang. Dia bingung, kenapa si preman tahu namanya.
“Eh, kakak. Belum pulang?”
“Iya nunggu kamu. Yuk pulang bareng.”
“Eh, gak usah kak. Kasian kakak, harusnya kakak istirahat.”
“Kali ini jangan nolak! Anggap aja ini tanda terima kasih. Tadi kamu kan yang nolong saya.”
“Eh, gak usah kak.”
“Yuk!” kata si preman sambil meraih tangan Diva dan menuntunnya. Mereka pun masuk ke halaman parkiran. Menaiki motor si preman dan pergi meninggalkan sekolah.
Di perjalanan, Diva bingung harus berkata apa. Ia sama sekali salah tingkah, dan Diva hanya diam.
“Diva, rumah kamu dimana?”
“Eh iya kak. Dari sini lurus aja nanti ada pertigaan belok kanan, terus belok kiri ada gang. Ihsan. Nah, rumahku di sebelah gang itu kak.”
“Oke siap.”
Beberapa menit kemudian, mereka sampai di depan rumahnya Diva. Diva pun segera turun dari motor dan mengucapkan terima kasih pada si preman.
“Eh, Diva. Nama kita samaan lho.”
“Oh, iya kak?”
“Saya Dika. Kamu Diva. Hahaha.”
“Hahaha.”
“Kamu masuk, istirahat ya.”
“Eh iya kak, kakak juga. Makasih ya.”
“Iya. Pamit ya. Assalamualaikum.” Si preman pun berlalu pergi sambil tersenyum.
Diva melihat punggung si preman itu. Ia tersenyum melihat si preman yang tak seperti lelaki lain. Ia pun senang akhirnya tahu namanya. Dan saat itu ada rasa yang ia rasakan aneh dan tidak biasanya. Ia pun segera memasuki rumahnya dan berkata di dalam hatinya.
“Senang mengenalmu, Preman.”

Si Lucu

Aku Azmi, panggil saja Ami. Duduk di kelas 11 yaitu kelas 2 SMA. Ini kelas baru, semester baru, jadwal baru, dan teman-teman baru. Sekolahku sistemnya setiap kenaikan kelas, kelasnya diacak siswanya. Jadi kita bisa lebih tahu banyak teman.
Aku duduk di bangku yang kedua dari depan. Bersama temanku, Indah. Ada beberapa teman yang dulu pernah sekelas bersamaku. Tapi ada pula siswa dari kelas lainnya. Mereka ada yang mengenaliku ada juga yang tidak. Kebanyakannya sih, tidak. Termasuk Ija. Namanya Fachrija, tapi katanya ia lebih suka dipanggil Ija. Orangnya lucu, dan berikut adalah kelucuannya.
Pelajaran demi pelajaran kami lalui. Hari demi hari kami lalui. Dari mulai kimia, fisika, biologi dan matematika. Aku hampir setengah stres. Tapi banyak faktor yang membuat aku bisa terus semangat. Indah juga salah satu teman sebangku yang tidak lupa mengingatkanku akan PR, jadwal ulangan harian, dan kita berdua banyak sharing soal pelajaran. Aku suka dia.
Hari itu, Rabu 20 November 2013. Pelajaran hari itu ialah Pendidikan Kewarganegaraan (KWN), Kimia dan Matematika. Dan hari itu adalah hari dimana LKS (lembar kerja siswa) mata pelajaran KWN dikumpulkan untuk dinilai oleh guru. Aku mengumpulkan LKS-ku. Indah juga. Yang lainnya juga. Tiba-tiba Ibu Laras memanggil sebuah nama.
“Fachrija?” kata Bu Laras dengan nada bertanya.
Ija pun berdiri tapi dia masih diam ditempatnya. Ibu Laras melihatnya.
“Kamu Fachrija?” tanyanya.
“Iya Bu,” jawab Ija.
“Kepanjangannya ini… Fachrija Tampan.” Kata Bu Laras.
Sontak aku dan yang lainnya tertawa. Kelas jadi agak ricuh saat itu. Ada yang ledekin Ija ada yang  ketawain Ija. Macem-macem. Ketika suara tawaan kita terhenti, Ija pun mulai menjelaskan.
“Nama adalah sebuah doa, Bu. Semoga aja dengan kata tampan dibelakang nama saya, itu bisa membuat saya tampan.” Jelas Ija.
Hahaha. Kami semua tertawa kembali.
“Ini bukunya ambil. Cepat perbaiki namanya!” Kata Bu laras
Ija pun berjalan kearah meja guru. Lalu mengambil bukunya dan kembali ke bangkunya.
Pelajaran telah usai. Bel pun berbunyi tanda waktunya istirahat. Seperti biasa, sebagian menyerbu kantin sebagian diam dikelas. Hari itu aku bekal makanan jadi tidak pergi ke kantin. Indah pun bekal makanan juga. Ia terus menemaniku. Segerombolan kawan sedang berkumpul di bangku belakang. Aku pikir itu anak-anaknya Ija. Ternyata benar. Mereka asyik mengobrol.
“Eh, Ja, nama kamu beneran ganti?” Tanya Rangga.
“Ah, iya. Itu doa.”
“Doa apa, Ja?”
“Doa biar Ija tampan, berdampingan dengan Azmi cantik.”
Kata-kata itu terdengar hingga ke seluruh sudut ruangan kelas. Sontak aku berhenti mengunyah. Lalu menoleh ke arah Indah. Dan dia bilang bahwa itu suara Fachrija. Aku pun menoleh ke belakang, tepatnya ke arah Ija. Dia tersenyum mendapati aku melihatnya. Aku berbalik kembali kearah bangku. Aku terkejut lalu tidak membalas senyumnya. Dia terkadang membuat aku salah tingkah. Dan ini adalah salah satu kelucuannya. Disertai dengan kejahilannya menggelitik hati.
Tiba-tiba dia menghampiriku, dan memulai percakapannya.
“Makan yang banyak ya Azmi! Besok aku mau futsal, kamu bawa bekelnya 2 porsi ya buat aku 1,”Katanya.
Lalu ia berlalu pergi keluar kelas. Anak-anak yang ada di kelas pun melihat ke arahku dan Ija saat itu. Aku tidak tahu harus bersikap apa.
Besoknya seperti biasa belajar dari pagi hingga siang. Tapi ketika jam pelajaran terakhir, saat itu jam pelajaran kosong. Gurunya sedang sakit. Anak-anak diam di kelas. Sebagian ada yang membaca buku, mengobrol, dan ada yang bermain kartu remi. Itu salah satu kenakalan yang dilakukan oleh teman-teman sekelas khususnya laki-laki. Ija pun menjadi salah satunya. Aku memilih untuk mengobrol bersama Indah. Tiba-tiba dari arah teman-teman yang bermain kartu remi, mereka berteriak-teriak.
“Kamu kalah, hayu hukum, teman-teman.” Sorak seseorang
“Iya kalem, sok apa hukumannya?” Itu suara Ija.
“Hukumannya... nyanyi aja. Tapi harus bagus. Kalo gak bagus, kamu di iket di tiang bendera.” Kata seseorang.
“Iket aja langsung.”
“Temen-temen pengen denger suara orang tampan tuh,” kata Agung meledek.
“Oke. Rangga, bantuin! Pinjem gitar di kelas sebelah.” Kata Ija.
Rangga pun membawa gitar ke kelas sebelah lalu kembali ke kelas. Ia langsung menghampiri Ija yang telah berdiri di depan kelas. Lalu, Ija pun berbisik pada Rangga. Mungkin dia memberikan judul lagu apa yang ia akan nyanyikan.
Lalu mereka mulai. Lagu yang Ija nyanyikan adalah lagu Dealova-nya Once. Ditemani petikan melodi gitar oleh Rangga. Dan saat itu juga, aku baru sadar kalau suara Ija lumayan bagus.
Tiba di lirik reff, Ija pun bernyanyi dengan ditonton teman sekelas. Tiba-tiba Ija menghampiriku.
“Kau seperti nyanyian dalam hatiku yang memanggil rinduku padamu ooo...”
Ija meraih tanganku. Aku otomatis berdiri. Semua mata melihat ke arahku dan Ija. Mukaku merah pada saat itu. Aku benar-benar malu. Seperti diperlakukan romantis dan seperti menjadi orang yang istimewa oleh Ija. Hari itu, ada perasaan yang mengalir begitu saja.
Sepulang sekolah, aku mengunjungi perpustakaan. Mencari buku untuk tugas ditemani oleh Indah. Setelah memilih-milih buku, aku sempatkan membaca terlebih dahulu sambil menunggu ayahku menjemput. Tiba-tiba ada seseorang datang menghampiriku dengan langkah agak berlari.
“Ami, itu Ija futsal terus kaya yang berantem,” katanya dengan nafas terengah-engah.
Aku tidak berkata apa-apa. Aku hanya langsung berlari keluar perpustakaan dan menuju lapangan. Indah pun mengikutiku.
Di lapang, pandanganku menyapu seluruh sudut lapangan. Aku tak menemui anak-anak kelas disana. Lalu, Indah berteriak memberitahuku kalau teman-teman ada di dalam kelas. Aku berlari menyusul.
Tanpa sepatah kata, aku langsung menemui Ija yang tengah duduk. Ia menatapku lalu tersenyum.
“Kenapa?” tanyanya.
“Kamu berantem? Kamu gak apa-apa?”
“Kamu jangan khawatir! Bukan berantem, Cuma dorong-dorong dikit.”
“Gara-gara apa?”
“Gara-gara celanaku sobek. Lihat!”
Ija pun memperlihatkan celananya yang sobek. Ia mengangkang sedikit. Teman-teman yang masih di dalam kelas pun tertawa. Aku pun tertawa.
“Bawa bekal makanan lagi gak?” tanya Ija.
“Gak, Ja. Ami lupa,”
“Yaudah, gak apa. Kamu mau pulang? Aku antar ya!” Ajak Ija.
“Gak usah, aku nunggu jemputan.”
“Gak apa aku anter ya,” Ija pun berdiri lalu meraih tasnya.
“Aku ambil dulu buku-bukuku di perpus ya,” aku langsung berlari menuju perpus dan kembali ke kelas.
Saat aku kembali, Ija sudah siap dengan jaketnya dan memakai tasnya. Aku pun pamit pada Indah juga teman-teman yang lain.
Sembari jalan menuju halaman parkir sekolah, aku mengetik pesan untuk ayahku agar tidak usah menjemput. Lalu aku menyimpan handphoneku kembali dan melihat Ija berjalan di depanku. Aku pun menyusulnya. Kita berjalan berdampingan.
Di perjalanan pulang, cuaca mulai mendung. Ija memakai helm sedangkan aku tidak. Ia minta maaf karena tidak mempersiapkan apapun saat ia mengantarku pulang. Aku bilang itu tidak apa-apa.
Tiba-tiba hujan turun saat setengah perjalanan lagi menuju rumah. Kita putuskan berteduh di depan sebuah mini market.
“Tunggu hujan reda ya,” katanya.
“Hah? Apa? Gak kedengeran,” kataku dengan nada gak teriak.
Saat itu hujannya deras sekali. Sampai-sampai aku bicara pada Ija dengan nada berteriak.
“Kamu mau jajan dulu?” tanya Ija
“Apa?” kataku.
“Mau jajan dulu?” kata Ija dengan nada sedikit teriak dan berusaha berbicara agak dekat dengan telingaku.”
“Gak, makasih.” Kataku singkat
“Kalo jadi pasanganku, mau?”
“Apa, Ja?”
“Budeg! Gak jadi. Hahaha.” Ia pun tertawa.
Aku tersenyum karena tidak mendengar kata itu dengan jelas. Tadinya aku memastikan, tapi ia malah tidak mengatakannya lagi.
Hujan pun agak sedikit reda. Aku mengajaknya untuk pulang. Ia pun kembali mengantarkanku.
Hujannya menjadi gerimis. Baju kami berdua mulai basah. Padahal Ija menyimpan jas hujan di motornya. Katanya ia kuat hanya dengan menggunakan jaketnya saja.
Sampai dirumah, aku mengajaknya untuk masuk dulu kerumah. Ia mau lalu memarkirkan motornya di halaman rumah. Aku masuk lalu Ija menyusul masuk. Aku membawakan handuk untuknya lalu kembali ke dalam kamar untuk berganti pakaian. Setelah selesai, aku segera menemui Ija di ruang tamu.
“Ja, aku buatin minuman hangat ya,”
“Iya boleh, mau aku temenin?”
“Gak usah, Ja,” aku pun berjalan ke dapur.
Aku membawakannya teh manis hangat. Ia langsung meminumnya. Katanya itu kesukaannya. Lalu aku memperhatikan sikap duduknya. Ia seperti tidak nyaman untuk duduk. Iya, itu karena celananya sobek. Aku pun membawa celana training yang masih longgar ketika aku yang mengenakan. Saat itu juga berbarengan dengan datangnya ibuku. Ia langsung mengucapkan salam dan berkenalan dengan Ija. Ia juga menyuruhku untuk membuatkan lagi minuman untuk Ija.
Ija pergi mengganti celananya lalu kembali ke ruang tamu. Aku pun kembali ke ruang tamu sambil membawa lagi teh manis hangat.
“Kenapa bisa sampai sobek gitu, Ja?” aku memulai percakapan.
“Oh, ini karena aku menerima umpan lambung. Aku melebarkan kakiku sampai celanaku jadi begini. Hahaha.”
“Kamu ini! Kalau hobi, harus hati-hati.”
“Iya, hobiku kan ini. Nyobekin celana. Hahaha.”
“Hahaha.”
“Mamahku juga hobi. Hobi jahitin celanaku yang sobek lagi sobek lagi.”
“Hahaha.”
Sore itu, aku sangat suka cara bicaranya dan tertawa bersamanya. Itulah potongan kecil kelucuannya.
Esoknya, aku kurang enak badan. Mungkin karena kedinginan kemarin. Aku istirahat dirumah. Beberapa teman menghubungiku, menanyakan keadaanku dan juga memberitahuku PR hari itu.
Siangnya, ada yang datang. Itu Ija dan Rangga. Yang mengetuk pintu adalah Rangga. Aku membukanya dan mempersilahkan mereka masuk.
“Gak usah, jangan masuk Ga! Biar Ami istirahat. Ini Ija bawain ini buat kamu,” kata Ija yang masih berdiri di samping motornya lalu membawa sebuah kantong kresek dari motornya itu.
“Ini.”
“Ija masuk dulu. Gak enak, masa ngasihin sesuatu tapi orangnya diem diluar.” Kataku.
Ia pun masuk bersama dengan Rangga. Aku membuatkan mereka minum. Untungnya aku masih bisa melakukan hal-hal kecil itu, karena aku bukannya sakit, tapi kurang enak badan.
“Ada apa?” kataku sambil menyimpan gelas di atas meja ruang tamu.
“Tuh... Si Ija ini mah. Aku cuma nganter doang.” Kata Rangga.
Ija tersenyum malu.
“Panggilin temen-temen yang lain juga, gak apa-apa kok,” kataku.
“Beneran, Mi?” tanya Rangga.
Aku menjawabnya dengan mengangguk dan tersenyum. Lalu Rangga pun permisi keluar untuk menghubungi semua teman-teman. Rangga agak lama diluar tepatnya di teras rumahku. Sementara itu, ada ucapan Ija yang tak pernah diduga.
“Azmi, kamu gak jawab pertanyaanku kemarin.”
“Yang mana, Ja?”
“Langsung aja ya, kamu harus mau jadi pasanganku!”
Sontak aku diam disana. Aku takut telingaku salah menerima kata-kata. Itu bukan pertanyaan tapi pernyataan. Pernyataan kalau aku harus mau bersama Ija. Yang aku terima itu saja. Aku bingung, tak tahu harus bicara apa.
“Ja...”
“Iya?”
“Aku harus jawab apa?”
“Gak usah jawab.”
“Tapi... Azmi gak bisa.”
“Iya, Mi. Tapi kita tetep jadi pasangan, pasangan yang harus sehat. Jangan sakit-sakitan! Kamu harus makan, minum obat. Ini Ija, bawain kue sama... boneka. Ija harap Ami suka.” Katanya sambil membuka isi kantong kresek besar itu.
“Ja...”
“Iya Mi, Ija ngerti. Ija sependapat sama kamu.”
Lalu masuklah Rangga dan melihat ada boneka di tangannya Ija. Ia hampir tidak percaya Ija bisa bawakan aku sebuah boneka. Ia tertawa.
Beberapa saat kemudian, teman-teman yang lain tiba. Mereka memarkirkan motor di halaman rumahku lalu masuk. Mereka membawakanku makanan, tapi makanan itu aku hidangkan untuk mereka. Saat itu, kami memakannya bersama hingga sore tiba. Hujan yang mulai mengguyur membuat mereka lama tinggal. Membuat percakapan kami berputar dan terus mengalir tanpa henti. Lelucon Ija dan Agung mendominasi membuat kami semua tertawa. Dan yang aku tangkap saat itu, Ija tidak kecewa terhadap apa yang jadi pilihanku. Ia sependapat. Dan ia pun mau menjadi teman baikku dan tak pernah lupa membuat aku tersenyum sepanjang harinya disekolah. Meski beberapa leluconnya itu menyebalkan, tapi aku suka dia dengan segala yang ia miliki. Dengan segala kelucuannya. Iya, dia lucu.

Selasa, 19 Mei 2015

Sketsa Tanpa Nama, Tanpa Cerita

"Aku mau berangkat ke kampus, kasihin tugas." Suara Windi berbicara dengan seseorang di balik telepon itu.
"Mau anter? Emang kamu gak cape?" Dia berbicara kembali pada orang yang menelponnya. "Yaudah. Aku masih dirumah kok. Bye."
Percakapan itu usai. Windi menyimpan handphonenya ke dalam tas. Ia segera memakai sepatu.

Tiba-tiba terdengar suara klakson motor, dan yang Windi lihat ialah wajah Pandu. Pandu membuka kaca helmnya dan tersenyum pada Windi.

"Ibu, Windi berangkat. Assalamualaikum." Windi agak berteriak di depan pintu rumahnya. Ia takut terlambat. Segera ia menutup pintu dan menuju motor Pandu. Ia naik dan mereka pergi berlalu.
Dari kaca spion, Pandu menyadari satu hal. Windi tampak gelisah saat itu. Ia panik melihat jam sudah hampir pukul 10, yaitu dimana tugasnya paling terlambat dikumpulkan jam 10.30. Ditambah jalanan yang agak ramai ini, membuat ia takut terjadi kemacetan panjang atau hal-hal yang menyebalkan lainnya di jalan. Ia takut dosennya tidak menunggu lama.

"Kamu panik gitu. Tenang aja sayang. Aman kok," Pandu memulai percakapan.
"Iya aman, tapi itu dosen sekalinya jam segitu harus tepat jam segitu," jawab Windi.
"Ya mudah-mudahan aja hari ini dia sabar nunggu, ini juga bentar lagi sampe. Kamu pegangan aja," kata Pandu. Windi pun tanpa basa-basi memeluk Pandu dari belakang. Ia tahu apa yang akan Pandu lakukan. Dugaan Windi benar. Pandu akan memacu motornya sedikit lebih cepat dari sebelumnya. Meliuk-liuk disetiap belokan dan diantara mobil-mobil. Windi tak yakin akan selamat. Ia tetap berdoa dalam hati. Harapannya, semoga ia tak kenapa-kenapa hari ini. Semoga ia dan tugasnya selamat sampai tujuan.

Tak lama, Pandu memarkirkan motornya. Windi pun langsung membuka helmnya lalu turun dan menuju ruangan dosen. Seperti biasa, Windi gesit. Dia selalu cepat, memprioritaskan yang penting. Ia pun sedikit berlari menuju ruang dosen tersebut. Pandu dari motornya pun melihat punggung Windi yang semakin tertelan oleh mahasiswa yang berlalu lalang di koridor.

Selesai. Tugas yang Windi kerjakan tidak ditolak oleh dosen, walaupun ia telat satu menit penuh. Dosennya berbaik hati hari itu. Ia pun segera menuju tempat Pandu, di parkiran.
Di parkiran, Windi hanya melihat motor Pandu saja. Ia cari sekeliling parkiran fakultasnya, ia tak menemukan Pandu. Tiba-tiba ada seseorang yang berbisik di telinga Windi, suaranya berat seperti menyepertikan suara kakek-kakek renta. Windi kaget, ia pun segera berbalik dan yang ia lihat bukan seorang kakek, tapi Pandu.
"Rese! Aku kaget tau," kata Windi dengan kesal.
"Hahaha, maaf Windi. Ngambek gitu, jangan menyon dong!" Ujar Pandu sambil menggoda.
"Habisnya, jail banget. Udah ah, yuk pulang!" Windi mengajak Pandu melupakan hal barusan.
"Jangan dulu! Sekarang kamu yang anter aku ya," Pandu segera menaikki motornya dan memakai helm.
"Kemana?" Tanya Windi.
"Jangan banyak tanya, nih pake helm terus naik. Lo cukup sama gue aja hari ini! Sambil bermalam minggu," kata Pandu.

Windi pun menuruti semua perkataan Pandu. Dan segera ia menaiki motor.

Sampai. Mereka berhenti di salah satu toko peralatan menulis, menggambar dll. Toko yang cukup besar. Mereka pun memarkir motor, membuka helm mereka lalu pergi ke dalam toko tersebut.

Di toko itu, langkah Pandu lebih lebar dari biasanya. Windi mengikuti Pandu semampu yang ia bisa. Pandu pun menoleh kebelakang lalu meraih tangan Windi dan menuntunnya agar Windi tidak jauh dengannya.
"Sedikit kasar," ujar Windi.
"Maaf sayang," sambil berbisik pada Windi.

Pertemuan mereka selalu seperti ini. Pandu yang naik turun, Windi yang cuek tapi perasa. Meski seperti itu, mereka terlihat serasi, kompak. Meski tidak seromantis orang-orang.

Pandu menuju rak kertas-kertas gambar, lalu segera memilih-milih kertas apa yang ia perlukan. Windi pun ikut melihat-lihat. Meski ia kurang mengerti tentang alat gambar. Yang ia tau, ia suka menggambar tapi hanya untuk hobi saja. Hobi yang tidak ia perdalam.

Setelah mendapatkan kertas, mereka menuju tempat kuas. Pandu segera memilih kuas yang ia perlukan.
"Buat apa kuas sebanyak itu?" Tanya Windi.
"Buat mural," jawab Pandu.
"Emang mau mural lagi? Kamu gak cape apa? Kemarin sore latihan band terus pergi mural. Mural semalaman. Pulang pun pagi tadi. Take a rest Pandu! Kesehatan loe lebih berharga daripada mural!" Ujar Windi menasehati Pandu.
Pandu pun masih memilih-milih kuasnya. Ia belum merespon Windi.
"Heh, loe denger gak?" Kata Windi dengan nada sedikit naik.
Pandu pun melihat Windi, lalu menatapnya.
"Gak usah panik gitu! Gue gak apa-apa, tenang aja." Kata Pandu lalu tersenyum.

Pandu pun melanjutkan pencarian alat-alat gambarnya tersebut. Mereka hampir mengelilingi seluruh sisi toko tersebut. Selesai memilih-milih, mereka menuju kasir lalu meninggalkan toko tersebut.
"Aku mau nunjukin sesuatu sama kamu," kata Pandu sedikit teriak karena suara Pandu melawan suara semua kendaraan yang ada di jalan.
"Apaan?" Tanya Windi.

Pandu tidak menjawabnya. Ia pun langsung belok ke salah satu gedung yang terlihat sudah lama tidak dipakai dan terlihat sepi. Dibelakang gedung itu ada tembok yang luas dan masih utuh. Mereka kesana. Pandu memperlihat sesuatu pada Windi disana.

Mereka berhenti.
"Tuh," kata Pandu sambil menunjuk tembok tersebut.
Ditembok itu ada banyak lukisan mural. Entah karya siapa tapi itu indah.
"Keren," kata Windi sambil melihat semua lukisan di semua sisi tembok tersebut.
"Selanjutnya, aku diajakin mural lagi. Target yang kali ini di sebuah gang. Gak terlalu sempit, tapi yang lewat kesana agak rame. Sekarang temen-temen juga lagi pada siap-siap. Ijin dari RT setempat udah di tangan. Tinggal kitanya aja mempersiapkan diri," kata Pandu.
"Hmm..." Windi sambil mengangguk.
"Aku ada rencana, mau gambar muka loe mural ntar. Hahaha." Kata Pandu. Windi pun hanya tersenyum dengan perkataan Pandu tersebut. Hatinya senang bukan main. Ia tak menyangka, Pandu memiliki sisi romantis yang berbeda dengan pria lain.

Minggu pagi. Windi tak berencana apa-apa. Minggu ini ia habiskan untuk nonton tv dan cek setiap sudut di handphonenya. Hari-hari yang lalu, ia tidak banyak mengecek HPnya. Ia sibuk dengan tumpukan tugas.

Ke atas ke bawah. Layar sentuhnya digeser ke atas ke bawah. 2x tap, klik ini klik itu. Baca ini baca itu. Sampai-sampai ia terdiam. Ia pun langsung bergegas mengambil jaket dan menuju garasi rumahnya. Menaiki dan menyalakan motor lalu pergi tanpa pamit pada orang rumah.

Rumahnya tak jauh dengan tujuannya. Beda beberapa blok dengan rumahnya. Sesampainya disana ia memarkirkan motor lalu menuju ke sebuah rumah dan mengetuk pintunya.

Tak lama, pintu itu di buka oleh wanita paruh baya. Ia pun mempersilahkan Windi untuk masuk. Windi pun langsung membicarakan kepada siapa ia kemari. Wanita itu pun menunjuk  salah satu kamar di lantai dua pada Windi. Windi pun segera menuju kamar yang ditunjuk tersebut. Wanita itu mempersilahkan Windi.

Pintu kamar itu tidak terkunci. Windi pun masuk lalu melihat dalam kamar. Ada seseorang yang tertidur. Sangat pulas. Windi pun masuk kamar itu, berniat untuk membangunkan orang itu.
"Bangun woy! Udah pagi!" Teriak Windi sambil menggoyang-goyangkan badan orang itu.
"Ayo bangun! Cepet!"

"Berisik!" Keluh Pandu.
"Pandu Cahya Ramadhan! Kebo! Udah pagi ini!" Kata Windi.
"Masih ngantuk." Pandu mengeluh lagi.
"Loe liat samping kasur loe, tuh. Di meja udah ada sarapan buat loe. Mamah loe yang bikin, gak kasihan apa?"
"Hmm... Iya 5 menit lagi," Pandu pun menarik selimutnya kembali.
Windi pun diam. Melihat Pandu yang sekarang kembali ke bawah selimutnya. Ia pun duduk. Melihat sekitar kamar Pandu. Berantakan kacau. Apa yang Pandu lakukan semalam.

Windi melihat buku-buku yang tergeletak di lantai dan di atas meja. Ia merapihkannya sebisanya. Mejanya pun dipenuhi dengan gambar-gambar hasil karya Pandu. Sebagian ada yang ditempel di dinding kamarnya. Windi melihat-lihat semua gambar itu. Ada lukisan, sketsa, dll.

"Ngapain?"
Suara Pandu itu membuat Windi kaget. Windi menoleh dan melihat Pandu yang kini matanya mulai membuka.
"Mau coba beresin, kali aja di gaji sama yang punya kamar," kata Windi.
"Hmm..." Pandu pun bangun. Ia duduk di kasurnya. Sementara Windi masih tetap melihat gambar-gambar itu.
"Udah, simpen aja," kata Pandu.
Windi pun menyimpannya dan duduk didekat Pandu.
"Kok gak ngabarin mau ke rumah?" Tanya Pandu.
"Emang gak di rencana," jawab Windi.
"Aku mandi dulu ya," kata Pandu lalu ia berdiri menuju kamar mandi dengan jalan yang seloyongan.
Windi pun mengangguk tersenyum. Ia pun melihat Pandu yang kini berjalan menuju kamar mandi. Ia heran Pandu berjalan seloyongan seperti itu yang menurut Windi itu parah. Kini Windi pun cemas. Ia merasa ada yang tidak beres dengan Pandu.

"Gimana udah ganteng kan?" Kata Pandu sambil keluar dari kamar mandinya.
"Tuh rambutnya rapihin!" Kata Windi.
Pandu pun mencari sisir rambut, lalu ia bercermin.
"Ntar aja deh, masih basah rambutnya," kata Pandu. Ia pun duduk kembali di kasur yang sudah rapih dibereskan Windi.
"Tumben banget loe care? Hahaha," kata Pandu.
"Dari pada berantakan terus, gue rapihin aja. Lagian aneh deh, tumben banget kamar berantakan kaya rumah kebakaran gini? Berpakaian loe kan rapih, masa..."
"Mau sarapan?" Pandu memotong pembicaraan Windi. Lalu ia membawa sepiring sandwich yg sudah di siapkan oleh ibunya. Windi pun diam dan menggelengkan kepalanya. Ia sudah sarapan, ia tidak ingin sadwich itu. Ia juga tidak ingin pembicaraannya dipotong. Windi sedikit kesal.

Mereka putuskan untuk menghabiskan waktu berdua di halaman belakang rumah Pandu. Ada taman di halaman belakang rumah Pandu itu. Ada rerumputan yang bersih dan rapih, juga pohon yang tidak terlalu tinggi dan disertai bunga-bunga. Suasananya asri, segar. Pandu membawa alat gambarnya dan menggambar disana. Sementara Windi, ia membawa sebuah novel milik Pandu lalu membacanya. Mereka duduk di rerumputan.
Windi membaca di keheningan. Dia fokus dengan bacaannya. Sampai-sampai fokusnya pecah setelah ia ingat maksud tujuan ia ke rumah Pandu. Windi harus mengungkapkan apa tujuannya datang kemari.

Ia melihat Pandu sedang konsentrasi menggambar.
"Gambar apa?" Tanya Windi.
"Coba gambar..." Pandu tidak melanjutkan. Ia tak yakin gambar apa atau siapa ini. Windi mengintip gambar Pandu. Ia lihat sketsa seseorang. Baru seperempatnya Pandu menggambarnya, jadi Windi tak yakin itu sketsa siapa. Mungkin Pandu latihan membuat sketsa wajahnya, pikir Windi.

"Pandu..." Windi memanggil.
"Hmm..." Suara Pandu masih sambil menggambar.
"Kemarin loe minum?" Tanya Windi dengan nada yang gugup, ia hati-hati berucap.
Tak ada kata, tak ada jawab. Pandu masih bungkam dan menggambar.
"Maaf kalo pertanyaann gue bikin loe tersinggung, tapi gue cuma mau mastiin aja," lanjut Windi.
"Gak apa-apa. Aku gak minum," jawab Pandu.
"Hmm... Aku pengen mastiin aja. Aku heran liat kamar kamu berantakan, terus kamu ngebo ditambah..." Windi ragu melanjutkan pembicaraannya.
"Ditambah, aku lihat temen kamu kemarin malem check in di path dan tag kamu, kalian di bar malem kemarin," Windi melanjutkan dengan nada penuh hati-hati.
Pandu diam. Tangannya berhenti menggambar. Dia tak pandai berbohong.

"Pandu..." Panggil Windi.
"Iya aku minum," jawab Pandu sambil melihat mata Windi yang dari tadi ia sadari sepasang mata itu memperhatikannya.
"Kamu kenapa? Ada masalah?" Tanya Windi.
Pandu pun hanya diam. Ia melanjutkan kembali gambarnya itu. Windi sangat heran. Apa yang ada di pikiran Pandu.
"Kalo ada masalah, cerita sama aku. Aku gak mau liat kamu kaya gini! Kemarin siang kamu senyum sama aku, sekarang di ajak bicara, kamu lihat mata aku pun gak." Kata Windi.

Hening. Tak ada jawab, tak ada sepatah kata apapun yang Pandu keluarkan. Ia diam. Masih diam. Tangannya masih menari-nari di atas gambar itu. Ia bingung apa yang harus ia katakan, ia takut menyakiti Windi dengan apa yang ada dihatinya. Ia masih fokus pada gambar itu. Menuangkan apa yang terinspirasi, apa yang ada dalam hatinya. Windi pun melanjutkan membaca buku. Ia diam saja, mungkin ada waktunya Pandu akan bercerita padanya.

Sudah hampir setengah bagian dari buku itu, ia mulai lelah. Matanya merasa kantuk. Ia melihat Pandu yang diam sambil menatap gambarnya.
"Udah beres? Sini aku lihat!" Kata Windi.
"Gak, belum beres. Ada yang salah," jawab Pandu sambil menjauhkan gambarnya dari pandangan Windi.

"Mana lihat dulu? Kalo salah hapus aja yang bagian salahnya. Sini!" Windi mencoba meraih gambar itu.
Pandu tetap tidak ingin memperlihatkan gambarnya, sementara Windi bersih keras meraih gambar itu dan mencoba merebutnya dari tangan Pandu.

Gambar itu jatuh. Terlempar dari tangan Pandu. Windi segera melihat gambar yang terbuka itu. Ia mengamati gambarnya dan mencoba mengetahui apa yang Pandu gambar.

"Windi jangan dilihat!" Kata Pandu. Tangannya meraih gambar itu. Tapi tangan Windi menepis tangan Pandu dan menghalangi Pandu mendekati gambarnya.

Windi meraih gambar itu. Menatap sketsa yang ada pada gambar. Sketsa seseorang. Hampir selesai. Ia tak tahu sketsa siapa.
"Ini siapa?" Tanya Windi.
Pandu diam.
"Ini siapa Pandu?" Tanya Windi kembali.
Windi melihat mata Pandu. Pandu memalingkan pandangan. Windi pun melihat kembali gambar itu. Itu bukan sketsa wajahnya. Tapi seseorang. Bukan dia, bukan Pandu. Sketsa seorang wanita. Ibunya? Bukan. Lalu siapa?

Windi melihat ada hurup A di bawah sketsa itu. Ia yakin gambar itu bukan untuknya. Lalu, ia simpan gambar itu di rumput. Dan menatap Pandu. Berharap ia membalas tatapannya. Tak lama Pandu menatap Windi. Menatap mata yang mulai berkaca. Windi akan menangis, pikirnya.
"Maaf," kata Pandu.

Windi bungkam. Ia hanya menatap Pandu. Ia heran. Kenaik turunnya Pandu dan sketsa ini. Lalu apa yang dipikirkan Pandu? Apa masalah yang ia hadapi tentang orang yang ada di sketsa ini?

"Aku pergi," dengan nada lirih. "Sukses muralnya nanti, jaga diri! Bye." Lanjut Windi. Ia pun pergi tanpa menunggu jawab dari Pandu. Ia kecewa saat itu. Ia tak tahu harus apa. Mungkin Windi akan pergi, menghilang dari Pandu. Tapi ia peduli. Perasaanya tak cukup kuat.

Pandu terdiam. Ia melihat punggung Windi. Berharap ia menoleh, tapi tidak. Ia tahu, Windi kecewa. Ini salah sketsa. Bukan. Bukan salah sketsa tanpa nama ini. Ini salah hatinya, hatinya yang membayangkan wajah wanita itu. Wanita yang ada dihatinya. Sampai kapan pun.

Angin

Hujan disini. Disekolah yang sudah sepi ditinggal siswa-siswinya. Tersisa Nizma dan segelintir anak kelas 12 yang tersisa, yang telah melewatkan jam pemantapan tambahan. Mereka menunggu hujan reda. Nizma terduduk di depan ruang piket, melihat air hujan yang jatuh ke tanah. Merasakan dinginnya hembusan angin saat itu.

Beberapa menit kemudian, hujan itu reda. Cukup reda. Ia putuskan untuk berjalan perlahan, sambil menunggu angkutan umum lewat.

Dari arah belakang, ia mendengar suara motor yang tak asing baginya. Suara itu mendekatinya dari belakang. Ketika ia menoleh, ia melihat seseorang yang tak diduga kedatangannya. Seseorang yang dua minggu yang lalu memutuskan untuk pergi darinya, meninggalkan Nizma. Dengan mukanya yg sedikit pucat, "Ayo naik!" katanya. Tanpa berpikir panjang, Nizma pun segera naik dan motor itu berlalu pergi.

Arlan memacu motornya cukup kencang. Hampir buku-buku yang Nizma pegang jatuh. Nizma pun memeluk buku itu. Lalu bertanya-tanya dalam hati, apa maksud kedatangan Arlan? Mengapa Arlan menjemputnya? Mengapa ia kembali?

Berhentilah motor itu didepan sebuah rumah. Nizma sadar, dia tidak diantarkan Arlan pulang ke rumahnya. Tapi Arlan membawa Nizma ke rumah Arlan.
"Ayo masuk!" kata Arlan sambil membuka sepatunya.
Nizma tampak bingung. Ia pun segera mengikuti Arlan membuka sepatunya. Dan mengikuti Arlan memasuki rumahnya.

"Silahkan duduk! Aku mau cari handuk dulu buat kita, dan bikin minuman hangat. Tunggu sebentar ya!", kata Arlan. Tanpa respon apapun, Arlan segera melakukan hal itu. Nizma yang masih bingung, ia hanya mengeluarkan mimik heran tanpa sepatah kata pun. Ia masih dikerumuni pertanyaan yang membuat hatinya bingung.
"Ini handuknya, coba keringin dulu. Terus ini teh hangat, silahkan!" Arlan kembali dengan membawa handuk dan segelas teh hangat. Ia memberikannya kepada Nizma. Nizma masih heran, tapi Arlan membalas keheranan Nizma dengan senyuman. Senyuman itu membuat Nizma semakin bingung.

Nizma sibuk mengeringkan baju, tas dan bukunya. Ia pun tersadar 1 hal. Rumah Arlan sepi. Tampak tak ada seorang pun selain dia dan Arlan. Ia teringat kembali ketika ia berdua di rumah Arlan, menghabiskan waktu dengan memasak makanan seperti mie goreng banyak rasa, lalu nonton film kartun Jepang seperti Naruto atau Samurai X dan Nizma membuatkan Arlan kopi. Ingatan itu kembali merasuki pikirannya. Apakah Arlan menginginkan semua itu kembali dan utuh selamanya? Atau Arlan hanya kembali untuk pergi lagi? Nizma terdiam dengan semua pukulan dalam hatinya.

"Di minum dulu, Neng", kata Arlan.
"Oh iya, makasih a", Nizma menjawab lalu meminum teh hangat itu.
Nizma melihat jam tangannya. Arlan memperhatikannya. "Kamu buru-buru?" tanya Arlan.
"Gak kok," jawab Nizma singkat.

Beberapa menit setelah itu hening seketika. Tak ada kata yang terucap di bibir mereka berdua. Saat itu, Arlan mendekati Nizma, membuat posisi duduk mereka berdekatan. Membuat jarak mereka dekat dari sebelumnya. Hal yang sering dilakukan Arlan terhadap Nizma. Tangan Arlan perlahan meraih tangan Nizma. Hentakan kecil, bagi Nizma. Nizma tak tahu harus berbuat apa. Ia hanya terdiam.

Berhadapan. Mereka berhadapan saling menatap beberapa menit. Pertemuan mata itu, Arlan kalah. Ia tunduk dihadapan Nizma. Terdengar oleh Nizma, Arlan terisak. Suara isakan yang ditahannya. Kenapa dengan Arlan.
"Maafin aku, neng."
Sunyi itu pecah ketika satu kalimat itu terdengar oleh Nizma. Ia heran. Benar-benar heran. Apa yang membuat Arlan tunduk dan meminta maaf kepadanya?
"Harusnya gak kaya gini," lanjut Arlan.
Nizma masih diam.
"Harusnya aa gak pergi. Maafin aa, neng," lanjut Arlan lagi.
Keheranan Nizma pecah. Heran itu berubah menjadi tangis. Ia meneteskan air mata. Ia tak bisa menahannya. Dadanya sesak seketika. Ternyata kepergian Arlan membuat Nizma sakit.

"Kenapa mesti pergi?" Kata Nizma dengan nada lirih.
Arlan butuh beberapa menit untuk menangkap dan menjawab kata tanya Nizma.
"Harusnya gak kaya gini, aku sadar. Bukan dia, melainkan kamu," jawab Arlan.

Nizma diam. Ia melihat Arlan yang masih tunduk dan memegang erat tangannya.
"Lalu apa sekarang?" tanya Nizma.
"Bolehkah aku terus menggenggammu? Aku menyesal melepas," kata Arlan sambil menegakkan kepalanya kembali dan menatap Nizma. Nizma terenyuh. Entah apa yang harus ia katakan. Ia tak tahu jawabannya. Ia takut Arlan pergi lagi. Ia terlalu takut.

Arlan menatap Nizma. Menunggu jawaban. Penuh harap. Nizma pun hanya mengangguk dan tersenyum. Senyum simpul. Arlan menghembuskan nafas. Lega rasanya meski jawabannya hanya mengangguk.
Arlan menarik tangannya Nizma. Tubuh Nizma dipeluknya. Erat sekali. Nizma hanya terdiam. Pelukan ini sama hangatnya dengan pelukan sebelumnya. Ia merindukan pelukan Arlan. Nizma membalas pelukan Arlan. Tapi tak seerat Arlan. Nizma takut pelukan ini berartikan Arlan akan pergi lagi. Ia juga tak sepenuhnya percaya Arlan kembali. Ia butuh proses.

Beberapa minggu setelah itu, Nizma selesai menempuh salah satu ujian terberat dalam hidupnya, yaitu ujian nasional. Ia melewatinya dengan cukup tenang.

Nizma terbangun. Pagi itu, KBM di sekolahnya sudah berhenti seiring ujian usai. Pagi itu sangat dingin. Ia menolak untuk membuka selimutnya.  Ia pun meraih ponselnya dan mengecek jam lalu mengecek pesan-pesan yang masuk. Arlan ada di salah satu deretan pesan tersebut. Seperti biasa ia dingin dalam hal menulis teks. Lalu, ia mengecek media sosial lainnya. Melihat-lihat profil Arlan. Men-stalk Arlan.

Nizma akhirnya beranjak dari kasurnya. Ia akhirnya melawan gravitasi kasurnya. Ia keluar kamarnya. Rumahnya sudah sepi. Orang tuanya selalu berangkat pagi dan tepat waktu. Mereka pekerja keras. Sama seperti Nizma. Nizma bekerja keras bukan untuk pekerjaan. Ia bekerja keras melawan rasa malasnya.

Keluar dari kamar mandi, Nizma mengeringkan rambutnya yang mulai panjang itu. Terurai hingga punggungnya. Rambut ini tak pernah ia potong semenjak bersama Arlan. Rambutnya jadi saksi Nizma dan Arlan.

Nizma meminum susu hangat yang dibuatnya sendiri. Susu vanilla hangat itu mengingatkan Nizma bahwa ia harus les. Ia harus memulai les kembali untuk uji tulis masuk perguruan tinggi. Ia pun segera menuju kamar dan menyiapkan buku-buku untuk les.

Nizma menuju dapur. Perutnya pun harus siap kembali menerima materi-materi yang harus ia kuasai. Ia membuat sarapan. Nasi goreng, menjadi salah satu alternatif Nizma pagi itu. Ia sangat menyukai menu itu. Nizma sangat pandai memasak. Ia juga pandai mengerjakan pekerjaan rumah lainnya. Sifat keibuanya telah muncul.

Nasi goreng siap. Tiba-tiba terdengar suara motor. Seperti suara motor yang akan parkir di depan rumahnya. Nizma pikir itu kaka iparnya.

Orang itu mengetuk pintu. Nizma heran. Kalau itu kaka iparnya, tumben sekali ia mengetuk pintu. Nizma segera menuju pintu ruang tengah. Membuka pintu dan yang ia lihat bukan kaka iparnya. Arlan ada dibalik pintu itu.

"Hai," sapa Arlan.
"Hai, silahkan!" Nizma mempersilahkan Arlan untuk masuk.
"Lagi apa Niz?" tanya Arlan.
"Beres masak, mau sarapan?"
"Gak neng, gak usah,"
"Kopi?"
"Iya, boleh."

Nizma sudah tahu ia harus membuat apa. Ia kembali ke dapur. Lalu kembali ke ruang tamu, menuju Arlan. Tapi tangannya kosong tidak membawa apa yang Arlan pesan.

Nizma meraih tangan Arlan lalu menariknya. Arlan pun spontan berdiri. Ia ditarik masuk oleh Nizma. Nizma menarik Arlan menuju ruang makan. Di meja makan sudah terlihat dua piring nasi goreng, dan segelas kopi.

"Niz, aku gak akan sarapan. Kamu aja ya," ujar Arlan. "Aku udah kenyang," lanjut Arlan.
"Bohong. Kapan kamu pernah sarapan pagi? Kapan kamu bangun pagi? Ayo makan!" Nizma duduk.
Lalu Arlan pun mengikuti duduk.
"Habisin!" kata Nizma.
Arlan pun tersenyum. Ia senang Nizma sepeduli ini. Ia senang, mungkin ini tidak di rencanakan oleh mereka. Tapi ia senang Nizma mempersiapkannya secepat mungkin. Bagi Arlan, ini seperti kejutan. Mereka pun menghabiskan sarapannya.

"Ngobrolnya di ruang tamu yuk!" ajak Nizma.
"Ayo!"
Mereka kembali ke ruang tamu. Nizma di depan Arlan, membawakan kopi untuk Arlan.

Dari belakang, Arlan meraih Nizma. Memeluk Nizma perlahan. Nizma kaget. Ia kaku tak bisa berbuat apa-apa.
"Makasih pagi ini. Aku senang," kata Arlan.
Pipi Nizma merah. Kata-kata Arlan spontan membuat Nizma mematung. Kata-kata yang lembut dan pelan itu berbisik di dekat telinganya. Merdu. Mesra.

"Kembali kasih. Ayo duduk!" kata Nizma.
Arlan tidak melepas pelukannya. Itu membuat Nizma sulit untuk duduk.
"Lepas dulu, kita duduk," kata Nizma.
Arlan pun melepas pelukannya perlahan. Ia duduk.

Nizma menyimpan segelas kopi itu dan duduk di sofa yang panjang bersama Arlan. Namun mereka di ujung masing-masing sofa. Tidak berdekatan.
Arlan menatap Nizma. Rambutnya yang hitam membuat Nizma tampak cantik pagi itu. Terurai sederhana. Matanya bersinar di penglihatan Arlan.
Arlan mendekati Nizma. Kejadian itu terulang. Duduk berdekatan, berdua, bersama dan menggenggam tangan Nizma.

"Pagi ini sebenernya aku cuma pengen ngopi aja sebelum berangkat ngampus. Tapi, ini udah lebih neng. Makasih," kata Arlan.
"Iya aa," jawab Nizma singkat. Ia selalu kaku.

Arlan tersenyum. Melihat wajah Nizma dan memperhatikan setiap detailnya. Tangannya membelai rambutnya Nizma yang terurai. Arlan menyadari rambut Nizma panjang hingga punggung, rambut Nizma tumbuh bersamaan dengan tumbuhnya Nizma menjadi dewasa dan naluri keibuannya pun muncul. Terasa sekali.
Pipi Nizma kembali merah. Terkadang perlakuan spesial Arlan terhadapnya, membuat Nizma kaku. Tatapan mereka bertemu. Tatapan dalam, penuh makna. Wajah Arlan mendekat, semakin dekat. Nizma diam. Bibir Arlan meraih bibirnya. Nizma diam, ia tahu apa yang ia lakukan. Bibir Arlan yang tadi mengucap kata indah, kini bibir itu meraih bibirnya. Mesra.

Mereka kembali mengobrol. Dibumbui oleh candaan Arlan. Diwarnai tawa mereka berdua. Sampai waktu tak terasa sudah lewat pukul sepuluh.

"Aku harus les sekarang,"kata Nizma.
"Udah mulai lagi ya?" tanya Arlan.
"Iya," jawab Nizma singkat.
"Siap-siap sana! Ganti baju!"
"Iya aa," Nizma pergi menuju kamarnya.

Beberapa menit kemudian, Nizma kembali. Arlan masih duduk disana. Nizma kira Arlan berangkat duluan.
Nizma kurang bersemangat. Saat itu, ia hanya ingin tinggal dirumah, beristirahat dan melihat Arlan pergi kuliah.

"Kenapa?" tanya Arlan.
"Gak, cuma kurang semangat aja," jawab Nizma.
"Semangat Nizmaku, calon perawat."
Kata-kata Arlan itu, membuat semangat Nizma terbangun perlahan. Arlan selalu mengingatkan Nizma ke setiap cita-citanya.
"Aku juga mau pergi, kelas siang kan. Jadi sekalian aku berangkat, aku anter deh." ajak Arlan.
Nizma mengangguk, tersenyum. Mereka pun bersiap. Kemudian berlalu pergi.

Pagi itu tak pernah direncakan. Seketika semua mengalir. Masa-masa itu yang selalu diinginkan mereka. Bagi Nizma, Arlan adalah salah satu alasan semangatnya. Ia seperti angin. Angin yang menghembus kemana ia menghembus. Angin yang menyejukkan. Angin yang berada di bawah sayapnya. Yang menyeimbangkan Nizma. Tanpa Arlan, Nizma tak akan seimbang. Tapi Arlan pun seperti angin yang kesana kemari. Ke timur atau ke barat, angin laut atau angin darat. Angin yang tak Nizma ketahui arahnya.

Rabu, 18 Februari 2015

Lagi, Kembali Lagi


              Aku melihatnya yang tertidur. Matanya menutup, tubuhnya terlentang lemas. Raut wajahnya yang pucat seolah ia sedang bermimpi buruk. Bukan, ia tidak sedang bermimpi. Ia demam.
Aku duduk di kursi dekat jendela kamarnya. Memerhatikan rambutnya, wajahnya, tubuhnya menampilkan kisah sebelumnya. Ia membuat kisah kasih yang hampir tidak pernah lurus. Telah berulang kali ia terjebak dalam kenangannya. Telah berulang kali juga aku merelakannya untuk berjalan terlebih dahulu bersama dengan orang yang sesudahku.
Aku memerhatikan sudut-sudut kamarnya. Temboknya yang kosong tanpa hiasan, sebuah lemari juga cermin dan meja kecil di sebelah ranjangnya. Aku ingat ada sebingkai foto yang dulu masih disimpannya. Rapih di atas meja kecil itu. Tapi kini lain. Meja itu diisi buku-buku juga celengan kecilnya. Mengapa? Entahlah. Mungkin ia telah melepas kenangan itu. Kenangan itu sebenarnya setelah adanya aku. Aku terlebih dahulu digenggamnya, bukan kenangannya.
Lalu ingatanku dipaksa mengingat hal yang pernah mengikis hati. Ia tinggalkan aku untuk hati yang lain, hati perempuan yang lebih baik dari padaku. Tapi ketika hati itu hanya melihatnya sebelah mata, ia memilih untuk kembali kepadaku dan mengatakan bahwa ia tak pernah satu dengan perempuan itu. Apa yang membuatnya kembali? Lalu apa yang membuatku dengan mudah mempersilahkan ia untuk kembali?
Angin berhembus dari celah-celah jendela. Ia lepaskan aku pada ingatan yang hingga saat ini membuat lirih.
Tak lama, angin berhenti meniup. Seketika ada yang lain yang masuk dalam ingatan. Sial! Aku ingat ia membohongiku berulang kali.
Pernah dikala ia telah katakan tidak lagi bersamanya, bersama kenangannya, mulutnya tertutup mengunci. Aku tak tahu lagi mengapa-bagaimana ia bersama perempuan itu. Perempuan yang merampasnya dariku, perempuan yang semua orang tah6u ialah yang pertama. Tapi bukan. Mereka tak pernah tahu siapa yang paling awal.
Aku mengira bahwa mereka berpisah. Lalu ingatanku terlempar pada suatu hari dimana aku melihat perempuan itu memeluknya. Disebuah jalan yang pasti ia tahu itu jalan yang selalu aku lalui. Melihat mereka bersama terguncang seketika. Apa yang ia lakukan?apa ia kembali? Apa mereka tidak berhenti mencintai? Lalu apa yang ia katakan padaku? Kebohongan ataukah tipuan? 
Ia tak pernah selesai dengan kenangannya. Ia memilih kembali. Meninggalkan siapa yang menunggunya. Lalu aku teringat dimana ia datang kepadaku. Lagi. Berselang dua minggu dari kejadian itu, ia datang. Aku melihatnya dibalik pintu rumah. Dengan senyum dan rambutnya yang selalu berantakan, seperti orang yang selesai mandi. Aku balik tersenyum dan memerhatikan rambut, wajah hingga ujung kakinya. Bersamaan dengan kebingungan. Mengapa ia datang?
Sore itu ia menginginkan duduk disampingku. Tangannya meraih tanganku. Tatapan kita bertemu. Detik-detik yang menghilang di hujan kemarin. Kita terdiam. Tanganku merasakan hangat. Bibirnya meraih keningku. Ia merindukanku, sama seperti aku merindunya.

"Kenapa?"
"Hmm gak apa-apa."
"Ada yang gak beres?"
"Iya"
Aku menunggu kelanjutan jawaban "iya" darinya.
"Perempuan itu, ia masih terlilit masa lalunya. Aku melihat ini di akun facebooknya. Ditambah lagi, semuanya tidak berpihak padaku. Aku lelah berpura-pura kuat didepannya. Ia keras kepala. Padahal ia tahu ibunya melarangnya bersamaku. Tapi ia acuhkan perkataan itu," ceritanya sambil memperlihatkan postingan perempuan itu.
Tidak berkata. Aku membisu. Aku hanya menggenggam tangannya. Semoga sentuhanku mengatakan apa yang ingin aku katakan.
Waktu berlalu. Senja datang.  Rambutnya kini rapi, ia selalu memintaku untuk merapihkan rambutnya. Ia pamit. Senyumannya di akhir pertemuan selalu membuatku tersenyum malu. Lalu tangannya menarik tanganku. Membuat tubuhku condong ke depan. Hanya beberapa detik membuat tubuhku didekatnya, terbenam bersama kehangatan. Ia memelukku erat. Aku hanya bisa membalas pelukannya, meski saat itu beribu tanya menghampiri. Semoga saja tanya itu terjawab dengan jawaban indah tentang kisah ini.
Lamunan itu dibangunkan oleh dering telfon HPnya. "Mamah" tulisan dilayar handphonenya.
"Halo, assalamu'alaikum. Neng masih dirumah?" suara dibalik telfon itu.
"Iya masih mah.
"Aanya dimana?"
"Aa udah makan tadi terus tidur, Mah."
"Oh yaudah kalo kesorean pulang aja, nanti ibu khawatir. Mamah juga gak lama lagi pulang."
“oh iya Mah.”
“Makasih neng. Assalamualaikum.”

Mamahnya benar. senja mulai turun berganti malam. Tapi ia masih tertidur.
Aku memegang HPnya. Melihat ada beberapa pesan masuk. Mataku mengarah pada satu pesan. Nama pengirimnya "Mirah Ingsun". Aku ingat. Perempuan yang dekat dengannya sekarang. Satu perempuan lagi yang memaksaku untuk diam dan menggeserkanku. Aku menghela nafas panjang. Berucap dalam hati semoga jalan yang ia pilih yang terbaik untuknya. Semoga perempuan itu lebih jelas dibandingkan aku dan tidak menyakitkan seperti yang sebelumnya.
Tubuhnya bergerak perlahan. Ia terbangun. Aku langsung menaruh HPnya dan membantunya untuk duduk. Matanya sipit mengecil. Mukanya tidak sepucat pertama ia tertidur. Ia memintaku untuk duduk disebelahnya.
"Mamah masih belum pulang?" suaranya berat.
"Belum, bentar lagi mamah pulang. Ini minum dulu."
"Iya, makasih calon ibu perawat," ia tersenyum, menggapai gelas yang berada ditanganku. lalu meminumnya."
"Masih calon. Amin," jawabku.
"Iya mudah-mudahan tercapai neng," ia membalas.
Dalam hati aku pun berdoa, semoga cita-cita dan cinta ini tercapai dan diberikan jalan yang terbaik. Agar aku tak merasa sendiri, agar aku bisa merawatnya, agar kita bahagia. Meski halangan yang menghalangi, semoga doaku jadi doamu juga dan Allah tak menghalangi dan ijinkan doa kita. Semoga.

the end