Minggu, 20 Maret 2016

Si Lucu

Aku Azmi, panggil saja Ami. Duduk di kelas 11 yaitu kelas 2 SMA. Ini kelas baru, semester baru, jadwal baru, dan teman-teman baru. Sekolahku sistemnya setiap kenaikan kelas, kelasnya diacak siswanya. Jadi kita bisa lebih tahu banyak teman.
Aku duduk di bangku yang kedua dari depan. Bersama temanku, Indah. Ada beberapa teman yang dulu pernah sekelas bersamaku. Tapi ada pula siswa dari kelas lainnya. Mereka ada yang mengenaliku ada juga yang tidak. Kebanyakannya sih, tidak. Termasuk Ija. Namanya Fachrija, tapi katanya ia lebih suka dipanggil Ija. Orangnya lucu, dan berikut adalah kelucuannya.
Pelajaran demi pelajaran kami lalui. Hari demi hari kami lalui. Dari mulai kimia, fisika, biologi dan matematika. Aku hampir setengah stres. Tapi banyak faktor yang membuat aku bisa terus semangat. Indah juga salah satu teman sebangku yang tidak lupa mengingatkanku akan PR, jadwal ulangan harian, dan kita berdua banyak sharing soal pelajaran. Aku suka dia.
Hari itu, Rabu 20 November 2013. Pelajaran hari itu ialah Pendidikan Kewarganegaraan (KWN), Kimia dan Matematika. Dan hari itu adalah hari dimana LKS (lembar kerja siswa) mata pelajaran KWN dikumpulkan untuk dinilai oleh guru. Aku mengumpulkan LKS-ku. Indah juga. Yang lainnya juga. Tiba-tiba Ibu Laras memanggil sebuah nama.
“Fachrija?” kata Bu Laras dengan nada bertanya.
Ija pun berdiri tapi dia masih diam ditempatnya. Ibu Laras melihatnya.
“Kamu Fachrija?” tanyanya.
“Iya Bu,” jawab Ija.
“Kepanjangannya ini… Fachrija Tampan.” Kata Bu Laras.
Sontak aku dan yang lainnya tertawa. Kelas jadi agak ricuh saat itu. Ada yang ledekin Ija ada yang  ketawain Ija. Macem-macem. Ketika suara tawaan kita terhenti, Ija pun mulai menjelaskan.
“Nama adalah sebuah doa, Bu. Semoga aja dengan kata tampan dibelakang nama saya, itu bisa membuat saya tampan.” Jelas Ija.
Hahaha. Kami semua tertawa kembali.
“Ini bukunya ambil. Cepat perbaiki namanya!” Kata Bu laras
Ija pun berjalan kearah meja guru. Lalu mengambil bukunya dan kembali ke bangkunya.
Pelajaran telah usai. Bel pun berbunyi tanda waktunya istirahat. Seperti biasa, sebagian menyerbu kantin sebagian diam dikelas. Hari itu aku bekal makanan jadi tidak pergi ke kantin. Indah pun bekal makanan juga. Ia terus menemaniku. Segerombolan kawan sedang berkumpul di bangku belakang. Aku pikir itu anak-anaknya Ija. Ternyata benar. Mereka asyik mengobrol.
“Eh, Ja, nama kamu beneran ganti?” Tanya Rangga.
“Ah, iya. Itu doa.”
“Doa apa, Ja?”
“Doa biar Ija tampan, berdampingan dengan Azmi cantik.”
Kata-kata itu terdengar hingga ke seluruh sudut ruangan kelas. Sontak aku berhenti mengunyah. Lalu menoleh ke arah Indah. Dan dia bilang bahwa itu suara Fachrija. Aku pun menoleh ke belakang, tepatnya ke arah Ija. Dia tersenyum mendapati aku melihatnya. Aku berbalik kembali kearah bangku. Aku terkejut lalu tidak membalas senyumnya. Dia terkadang membuat aku salah tingkah. Dan ini adalah salah satu kelucuannya. Disertai dengan kejahilannya menggelitik hati.
Tiba-tiba dia menghampiriku, dan memulai percakapannya.
“Makan yang banyak ya Azmi! Besok aku mau futsal, kamu bawa bekelnya 2 porsi ya buat aku 1,”Katanya.
Lalu ia berlalu pergi keluar kelas. Anak-anak yang ada di kelas pun melihat ke arahku dan Ija saat itu. Aku tidak tahu harus bersikap apa.
Besoknya seperti biasa belajar dari pagi hingga siang. Tapi ketika jam pelajaran terakhir, saat itu jam pelajaran kosong. Gurunya sedang sakit. Anak-anak diam di kelas. Sebagian ada yang membaca buku, mengobrol, dan ada yang bermain kartu remi. Itu salah satu kenakalan yang dilakukan oleh teman-teman sekelas khususnya laki-laki. Ija pun menjadi salah satunya. Aku memilih untuk mengobrol bersama Indah. Tiba-tiba dari arah teman-teman yang bermain kartu remi, mereka berteriak-teriak.
“Kamu kalah, hayu hukum, teman-teman.” Sorak seseorang
“Iya kalem, sok apa hukumannya?” Itu suara Ija.
“Hukumannya... nyanyi aja. Tapi harus bagus. Kalo gak bagus, kamu di iket di tiang bendera.” Kata seseorang.
“Iket aja langsung.”
“Temen-temen pengen denger suara orang tampan tuh,” kata Agung meledek.
“Oke. Rangga, bantuin! Pinjem gitar di kelas sebelah.” Kata Ija.
Rangga pun membawa gitar ke kelas sebelah lalu kembali ke kelas. Ia langsung menghampiri Ija yang telah berdiri di depan kelas. Lalu, Ija pun berbisik pada Rangga. Mungkin dia memberikan judul lagu apa yang ia akan nyanyikan.
Lalu mereka mulai. Lagu yang Ija nyanyikan adalah lagu Dealova-nya Once. Ditemani petikan melodi gitar oleh Rangga. Dan saat itu juga, aku baru sadar kalau suara Ija lumayan bagus.
Tiba di lirik reff, Ija pun bernyanyi dengan ditonton teman sekelas. Tiba-tiba Ija menghampiriku.
“Kau seperti nyanyian dalam hatiku yang memanggil rinduku padamu ooo...”
Ija meraih tanganku. Aku otomatis berdiri. Semua mata melihat ke arahku dan Ija. Mukaku merah pada saat itu. Aku benar-benar malu. Seperti diperlakukan romantis dan seperti menjadi orang yang istimewa oleh Ija. Hari itu, ada perasaan yang mengalir begitu saja.
Sepulang sekolah, aku mengunjungi perpustakaan. Mencari buku untuk tugas ditemani oleh Indah. Setelah memilih-milih buku, aku sempatkan membaca terlebih dahulu sambil menunggu ayahku menjemput. Tiba-tiba ada seseorang datang menghampiriku dengan langkah agak berlari.
“Ami, itu Ija futsal terus kaya yang berantem,” katanya dengan nafas terengah-engah.
Aku tidak berkata apa-apa. Aku hanya langsung berlari keluar perpustakaan dan menuju lapangan. Indah pun mengikutiku.
Di lapang, pandanganku menyapu seluruh sudut lapangan. Aku tak menemui anak-anak kelas disana. Lalu, Indah berteriak memberitahuku kalau teman-teman ada di dalam kelas. Aku berlari menyusul.
Tanpa sepatah kata, aku langsung menemui Ija yang tengah duduk. Ia menatapku lalu tersenyum.
“Kenapa?” tanyanya.
“Kamu berantem? Kamu gak apa-apa?”
“Kamu jangan khawatir! Bukan berantem, Cuma dorong-dorong dikit.”
“Gara-gara apa?”
“Gara-gara celanaku sobek. Lihat!”
Ija pun memperlihatkan celananya yang sobek. Ia mengangkang sedikit. Teman-teman yang masih di dalam kelas pun tertawa. Aku pun tertawa.
“Bawa bekal makanan lagi gak?” tanya Ija.
“Gak, Ja. Ami lupa,”
“Yaudah, gak apa. Kamu mau pulang? Aku antar ya!” Ajak Ija.
“Gak usah, aku nunggu jemputan.”
“Gak apa aku anter ya,” Ija pun berdiri lalu meraih tasnya.
“Aku ambil dulu buku-bukuku di perpus ya,” aku langsung berlari menuju perpus dan kembali ke kelas.
Saat aku kembali, Ija sudah siap dengan jaketnya dan memakai tasnya. Aku pun pamit pada Indah juga teman-teman yang lain.
Sembari jalan menuju halaman parkir sekolah, aku mengetik pesan untuk ayahku agar tidak usah menjemput. Lalu aku menyimpan handphoneku kembali dan melihat Ija berjalan di depanku. Aku pun menyusulnya. Kita berjalan berdampingan.
Di perjalanan pulang, cuaca mulai mendung. Ija memakai helm sedangkan aku tidak. Ia minta maaf karena tidak mempersiapkan apapun saat ia mengantarku pulang. Aku bilang itu tidak apa-apa.
Tiba-tiba hujan turun saat setengah perjalanan lagi menuju rumah. Kita putuskan berteduh di depan sebuah mini market.
“Tunggu hujan reda ya,” katanya.
“Hah? Apa? Gak kedengeran,” kataku dengan nada gak teriak.
Saat itu hujannya deras sekali. Sampai-sampai aku bicara pada Ija dengan nada berteriak.
“Kamu mau jajan dulu?” tanya Ija
“Apa?” kataku.
“Mau jajan dulu?” kata Ija dengan nada sedikit teriak dan berusaha berbicara agak dekat dengan telingaku.”
“Gak, makasih.” Kataku singkat
“Kalo jadi pasanganku, mau?”
“Apa, Ja?”
“Budeg! Gak jadi. Hahaha.” Ia pun tertawa.
Aku tersenyum karena tidak mendengar kata itu dengan jelas. Tadinya aku memastikan, tapi ia malah tidak mengatakannya lagi.
Hujan pun agak sedikit reda. Aku mengajaknya untuk pulang. Ia pun kembali mengantarkanku.
Hujannya menjadi gerimis. Baju kami berdua mulai basah. Padahal Ija menyimpan jas hujan di motornya. Katanya ia kuat hanya dengan menggunakan jaketnya saja.
Sampai dirumah, aku mengajaknya untuk masuk dulu kerumah. Ia mau lalu memarkirkan motornya di halaman rumah. Aku masuk lalu Ija menyusul masuk. Aku membawakan handuk untuknya lalu kembali ke dalam kamar untuk berganti pakaian. Setelah selesai, aku segera menemui Ija di ruang tamu.
“Ja, aku buatin minuman hangat ya,”
“Iya boleh, mau aku temenin?”
“Gak usah, Ja,” aku pun berjalan ke dapur.
Aku membawakannya teh manis hangat. Ia langsung meminumnya. Katanya itu kesukaannya. Lalu aku memperhatikan sikap duduknya. Ia seperti tidak nyaman untuk duduk. Iya, itu karena celananya sobek. Aku pun membawa celana training yang masih longgar ketika aku yang mengenakan. Saat itu juga berbarengan dengan datangnya ibuku. Ia langsung mengucapkan salam dan berkenalan dengan Ija. Ia juga menyuruhku untuk membuatkan lagi minuman untuk Ija.
Ija pergi mengganti celananya lalu kembali ke ruang tamu. Aku pun kembali ke ruang tamu sambil membawa lagi teh manis hangat.
“Kenapa bisa sampai sobek gitu, Ja?” aku memulai percakapan.
“Oh, ini karena aku menerima umpan lambung. Aku melebarkan kakiku sampai celanaku jadi begini. Hahaha.”
“Kamu ini! Kalau hobi, harus hati-hati.”
“Iya, hobiku kan ini. Nyobekin celana. Hahaha.”
“Hahaha.”
“Mamahku juga hobi. Hobi jahitin celanaku yang sobek lagi sobek lagi.”
“Hahaha.”
Sore itu, aku sangat suka cara bicaranya dan tertawa bersamanya. Itulah potongan kecil kelucuannya.
Esoknya, aku kurang enak badan. Mungkin karena kedinginan kemarin. Aku istirahat dirumah. Beberapa teman menghubungiku, menanyakan keadaanku dan juga memberitahuku PR hari itu.
Siangnya, ada yang datang. Itu Ija dan Rangga. Yang mengetuk pintu adalah Rangga. Aku membukanya dan mempersilahkan mereka masuk.
“Gak usah, jangan masuk Ga! Biar Ami istirahat. Ini Ija bawain ini buat kamu,” kata Ija yang masih berdiri di samping motornya lalu membawa sebuah kantong kresek dari motornya itu.
“Ini.”
“Ija masuk dulu. Gak enak, masa ngasihin sesuatu tapi orangnya diem diluar.” Kataku.
Ia pun masuk bersama dengan Rangga. Aku membuatkan mereka minum. Untungnya aku masih bisa melakukan hal-hal kecil itu, karena aku bukannya sakit, tapi kurang enak badan.
“Ada apa?” kataku sambil menyimpan gelas di atas meja ruang tamu.
“Tuh... Si Ija ini mah. Aku cuma nganter doang.” Kata Rangga.
Ija tersenyum malu.
“Panggilin temen-temen yang lain juga, gak apa-apa kok,” kataku.
“Beneran, Mi?” tanya Rangga.
Aku menjawabnya dengan mengangguk dan tersenyum. Lalu Rangga pun permisi keluar untuk menghubungi semua teman-teman. Rangga agak lama diluar tepatnya di teras rumahku. Sementara itu, ada ucapan Ija yang tak pernah diduga.
“Azmi, kamu gak jawab pertanyaanku kemarin.”
“Yang mana, Ja?”
“Langsung aja ya, kamu harus mau jadi pasanganku!”
Sontak aku diam disana. Aku takut telingaku salah menerima kata-kata. Itu bukan pertanyaan tapi pernyataan. Pernyataan kalau aku harus mau bersama Ija. Yang aku terima itu saja. Aku bingung, tak tahu harus bicara apa.
“Ja...”
“Iya?”
“Aku harus jawab apa?”
“Gak usah jawab.”
“Tapi... Azmi gak bisa.”
“Iya, Mi. Tapi kita tetep jadi pasangan, pasangan yang harus sehat. Jangan sakit-sakitan! Kamu harus makan, minum obat. Ini Ija, bawain kue sama... boneka. Ija harap Ami suka.” Katanya sambil membuka isi kantong kresek besar itu.
“Ja...”
“Iya Mi, Ija ngerti. Ija sependapat sama kamu.”
Lalu masuklah Rangga dan melihat ada boneka di tangannya Ija. Ia hampir tidak percaya Ija bisa bawakan aku sebuah boneka. Ia tertawa.
Beberapa saat kemudian, teman-teman yang lain tiba. Mereka memarkirkan motor di halaman rumahku lalu masuk. Mereka membawakanku makanan, tapi makanan itu aku hidangkan untuk mereka. Saat itu, kami memakannya bersama hingga sore tiba. Hujan yang mulai mengguyur membuat mereka lama tinggal. Membuat percakapan kami berputar dan terus mengalir tanpa henti. Lelucon Ija dan Agung mendominasi membuat kami semua tertawa. Dan yang aku tangkap saat itu, Ija tidak kecewa terhadap apa yang jadi pilihanku. Ia sependapat. Dan ia pun mau menjadi teman baikku dan tak pernah lupa membuat aku tersenyum sepanjang harinya disekolah. Meski beberapa leluconnya itu menyebalkan, tapi aku suka dia dengan segala yang ia miliki. Dengan segala kelucuannya. Iya, dia lucu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar