“Panitia kompetisi futsal diharapkan mengikuti rapat sekaligus technical meeting pertama sepulang sekolah di ruangan OSIS. Terima kasih”
Itu adalah isi pesan singkat yang Diva buka pagi itu, tepat saat ia tiba di sekolahnya. Ia tidak membalas pesan itu. Ia pun segera masuk ke kelasnya. Belajar dari pagi hingga waktu pulang sekolah tiba.
Sepulang sekolah, ia pergi ke ruangan OSIS. Disana, Diva sudah mendapati teman-temannya. Sebagian sudah mengumpul, sebagian lagi belum bubaran.
“Kita mulai aja ya, sambil nunggu yang lainnya. Soalnya pukul 4 sore, kita mau techmeet sama perwakilan tiap kelas.” Kata ketua pelaksana.
Mereka rapat dengan tenang, tidak terlalu serius. Ada sela-sela waktu dimana mereka bisa bercanda. Diva sangat menikmati.
Lalu tepat pukul 4, dilanjutkan dengan technical meeting bersama perwakilan kelas. Ruangannya berpindah jadi di kelas XI Ipa 1, tepat di sebelah ruangan OSIS. Disana sudah datang perwakilan tiap kelas. Diva masuk dan ia duduk diantara teman-temannya.
“Assalamu’alaikum. Maaf terlambat,” kata seseorang yang baru datang.
“Gak, Kang. Silahkan masuk. Baru mau dimulai kok,” kata ketua pelaksana.
Diva memandangi sosok yang baru datang itu. Ia menyadari itu kakak kelasnya. Ia pun memperhatikan penampilannya. Dan ia menyadari penampilan kakak kelasnya itu tidak mentaati peraturan sekolahannya. Rambutnya agak gondrong, dan seragamnya tidak dimasukan ke dalam celana.
Techmeet dimulai. Dan berlangsung hingga pukul 5 sore.
Diva pamit kepada teman-teman yang lain. Ia pun menyusuri koridor dan menuju gerbang. Sesampainya di gerbang, ada seseorang yang menyapanya.
“Hey, panitia ya?”
Diva menoleh, “Eh, iya?”
Ia mengenalinya. Itu adalah kakak kelasnya yang tadi terlambat datang ketika techmeet.
“Mau pulang bareng?” tanyanya.
“Gak, Kak. Makasih.”
“Beneran?”
“Iya gak apa-apa Kak,”
“Yaudah, saya duluan ya. Kamu hati-hati!” katanya sambil menghidupkan motornya lalu berlalu pergi.
Diva baru menyadari, kakak kelasnya yang seperti preman itu ternyata baik dan murah senyum.
Esoknya, Diva agak sibuk. Ia mencari sumber referensi untuk tugasnya di perpustakaan. Ia menemukan buku yang ia inginkan, tepatnya di rak paling belakang di ujung dan dibagian bawah. Ia pun membuka-buka bukunya itu, membaca sekilas di lantai dan ia pun duduk di lantai. Tiba-tiba, ia melihat ada sepatu dekat dengan tempat ia duduk. Ia pun melihat orang yang mengenakan sepatunya, pandangannya melihat ke arah atas. Ia mendapati kakak kelas yang ia sebut si preman itu. Kakak kelasnya itu tengah melihat-lihat buku dan mengenakan headseat di telinganya. Ia pun menyadari ada yang melihatnya dan mendapati Diva yang tengah melihatnya. Ia pun mendekati Diva dan jongkok dekat Diva.
“Yang kemarin ya? Kamu ngapain duduk di lantai?”
“Eh, kakak. Ini, Kak. Eee...”
“Saking rajinnya ya, lanjutkan ya de,” katanya sambil tersenyum.
Si preman itu pun berdiri lalu pergi meninggalkan Diva. Diva pun sadar kalau ia malu dan mungkin mukanya memerah. Ia pun melanjutkan mencari referensi tugasnya.
Kompetensi futsal pun di mulai. Diva dan teman-teman OSISnya menjadi panitia. Ia diberikan tugas di bagian P3K bersama 3 orang teman lainnya dan teman-teman dari PMR juga. Ia bersiap di sisi lapangan.
Siang itu, siang yang agak panas. Diva pun sudah mulai kelelahan. Ia pun duduk di bawah mengenai tanah dengan mata lelahnya. Tiba-tiba ia merasakan ada seseorang yang memperhatikannya. Ia pun menoleh ke arah kananya dan mendapati si preman memandanginya. Si preman itu langsung menghampirinya dan ikut duduk di samping Diva.
“Kamu cape ya? Ini minum de,” kata si preman sambil menyodorkan botol minum ke Diva.
“Eh iya, Kak. Makasih,”
“Semangat ya ade panitia,” kata si preman sambil ia memegang kepala Diva lalu tersenyum.
Diva membalas senyumannya. Dan si preman pun berdiri lalu pergi menuju teman-temannya. Pandangan Diva pun menuju ke arah punggung si preman. Ternyata orang itu peduli padanya, dan itu adalah perasaan yang aneh yang ia rasakan saat itu.
Kompetisi dimulai kembali. Para penonton masih memadati lapangan sekolah. Diva masih berada di pinggir lapangan. Jam 14.00, tim kelas 12 bermain. Dan yang bermain saat itu adalah kelasnya si kakak preman.
Permainan berjalan agak tegang. Satu atau dua orang pemain ada yang terbawa emosi. Tiba-tiba satu pelanggaran tertuju pada kakak preman itu. Dan ia pun membalasnya. Disitu agak memanas permainan. Ada sedikit adu pukul. Diva berdiri melihat apakah ada yang terluka atau tidak. Para panitia yang lelaki mencoba untuk memisahkan pemain yang adu pukul. Setelah kerumunan tim pemisah itu agak menjauh dari tkp, Diva melihat si preman itu terluka di bagian pelipis, pinggir mulutnya dan kakinya. Dia hampir penuh dengan memar. Diva pun mengajak tim PMR untuk ikut membantu menolong si preman. Sementara teman-teman yang lain mencoba menolong pemain lain yang terluka. Diva pun segera menuju si preman. Mencoba membuat si preman berdiri. Ia menuntunnya ditemani dengan rekan PMR lain. Mereka pun ke pinggir lapangan untuk melakukan pertolongan pertama.
“Kak, sebentar ya, di obat dulu.” Kata Diva.
“Gak usah, gak usah.” Si preman menolak.
“Memarnya kak… Sebentar kok.”
Si preman pun duduk dengan nafasnya yang masih terengah-engah. Diva mencoba mengobati memar-memar yang ada di wajahnya.
“Udah selesai kak, maaf kalo sakit.”
“Gak apa. Makasih de.” Kata si preman sambil tersenyum.
Diva pun segara membereskan alat-alat P3K lalu berdiri untuk kembali ke dekat panitia lainnya.
“Eh, mau kemana? Temani saya, disini aja.” Kata si preman.
“Eh, tapi aku mau kesana kak.”
“Gak usah, disini aja. Lagian pertandingannya juga bentar lagi udahan.”
“Eh, gak apa-apa emang kak?”
“Gak apa. Sini!”
Diva pun duduk di samping si preman. Ia tidak tahu akan seperti ini. Dadanya berdegup dengan irama yang agak aneh. Dia tidak tahu apakah ini gugup atau dia kelelahan.
Kompetisi hari itu selesai. Paniti dia akhri acara melakukan evaluasi. Setelah evaluasi, Diva pulang. Sekolah mulai senyap sore itu. Ia pun segera berpamitan dan menuju gerbang untuk pulang.
Di gerbang, ada suara yang memanggilnya dari arah belakang.
“Diva!”
Diva pun menoleh ke arah belakang dan mendapati si preman menuju ke arahnya dengan berjalan agak pincang. Dia bingung, kenapa si preman tahu namanya.
“Eh, kakak. Belum pulang?”
“Iya nunggu kamu. Yuk pulang bareng.”
“Eh, gak usah kak. Kasian kakak, harusnya kakak istirahat.”
“Kali ini jangan nolak! Anggap aja ini tanda terima kasih. Tadi kamu kan yang nolong saya.”
“Eh, gak usah kak.”
“Yuk!” kata si preman sambil meraih tangan Diva dan menuntunnya. Mereka pun masuk ke halaman parkiran. Menaiki motor si preman dan pergi meninggalkan sekolah.
Di perjalanan, Diva bingung harus berkata apa. Ia sama sekali salah tingkah, dan Diva hanya diam.
“Diva, rumah kamu dimana?”
“Eh iya kak. Dari sini lurus aja nanti ada pertigaan belok kanan, terus belok kiri ada gang. Ihsan. Nah, rumahku di sebelah gang itu kak.”
“Oke siap.”
Beberapa menit kemudian, mereka sampai di depan rumahnya Diva. Diva pun segera turun dari motor dan mengucapkan terima kasih pada si preman.
“Eh, Diva. Nama kita samaan lho.”
“Oh, iya kak?”
“Saya Dika. Kamu Diva. Hahaha.”
“Hahaha.”
“Kamu masuk, istirahat ya.”
“Eh iya kak, kakak juga. Makasih ya.”
“Iya. Pamit ya. Assalamualaikum.” Si preman pun berlalu pergi sambil tersenyum.
Diva melihat punggung si preman itu. Ia tersenyum melihat si preman yang tak seperti lelaki lain. Ia pun senang akhirnya tahu namanya. Dan saat itu ada rasa yang ia rasakan aneh dan tidak biasanya. Ia pun segera memasuki rumahnya dan berkata di dalam hatinya.
“Senang mengenalmu, Preman.”
Minggu, 20 Maret 2016
Hai, Preman
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar