Minggu, 20 Maret 2016

Si Lucu

Aku Azmi, panggil saja Ami. Duduk di kelas 11 yaitu kelas 2 SMA. Ini kelas baru, semester baru, jadwal baru, dan teman-teman baru. Sekolahku sistemnya setiap kenaikan kelas, kelasnya diacak siswanya. Jadi kita bisa lebih tahu banyak teman.
Aku duduk di bangku yang kedua dari depan. Bersama temanku, Indah. Ada beberapa teman yang dulu pernah sekelas bersamaku. Tapi ada pula siswa dari kelas lainnya. Mereka ada yang mengenaliku ada juga yang tidak. Kebanyakannya sih, tidak. Termasuk Ija. Namanya Fachrija, tapi katanya ia lebih suka dipanggil Ija. Orangnya lucu, dan berikut adalah kelucuannya.
Pelajaran demi pelajaran kami lalui. Hari demi hari kami lalui. Dari mulai kimia, fisika, biologi dan matematika. Aku hampir setengah stres. Tapi banyak faktor yang membuat aku bisa terus semangat. Indah juga salah satu teman sebangku yang tidak lupa mengingatkanku akan PR, jadwal ulangan harian, dan kita berdua banyak sharing soal pelajaran. Aku suka dia.
Hari itu, Rabu 20 November 2013. Pelajaran hari itu ialah Pendidikan Kewarganegaraan (KWN), Kimia dan Matematika. Dan hari itu adalah hari dimana LKS (lembar kerja siswa) mata pelajaran KWN dikumpulkan untuk dinilai oleh guru. Aku mengumpulkan LKS-ku. Indah juga. Yang lainnya juga. Tiba-tiba Ibu Laras memanggil sebuah nama.
“Fachrija?” kata Bu Laras dengan nada bertanya.
Ija pun berdiri tapi dia masih diam ditempatnya. Ibu Laras melihatnya.
“Kamu Fachrija?” tanyanya.
“Iya Bu,” jawab Ija.
“Kepanjangannya ini… Fachrija Tampan.” Kata Bu Laras.
Sontak aku dan yang lainnya tertawa. Kelas jadi agak ricuh saat itu. Ada yang ledekin Ija ada yang  ketawain Ija. Macem-macem. Ketika suara tawaan kita terhenti, Ija pun mulai menjelaskan.
“Nama adalah sebuah doa, Bu. Semoga aja dengan kata tampan dibelakang nama saya, itu bisa membuat saya tampan.” Jelas Ija.
Hahaha. Kami semua tertawa kembali.
“Ini bukunya ambil. Cepat perbaiki namanya!” Kata Bu laras
Ija pun berjalan kearah meja guru. Lalu mengambil bukunya dan kembali ke bangkunya.
Pelajaran telah usai. Bel pun berbunyi tanda waktunya istirahat. Seperti biasa, sebagian menyerbu kantin sebagian diam dikelas. Hari itu aku bekal makanan jadi tidak pergi ke kantin. Indah pun bekal makanan juga. Ia terus menemaniku. Segerombolan kawan sedang berkumpul di bangku belakang. Aku pikir itu anak-anaknya Ija. Ternyata benar. Mereka asyik mengobrol.
“Eh, Ja, nama kamu beneran ganti?” Tanya Rangga.
“Ah, iya. Itu doa.”
“Doa apa, Ja?”
“Doa biar Ija tampan, berdampingan dengan Azmi cantik.”
Kata-kata itu terdengar hingga ke seluruh sudut ruangan kelas. Sontak aku berhenti mengunyah. Lalu menoleh ke arah Indah. Dan dia bilang bahwa itu suara Fachrija. Aku pun menoleh ke belakang, tepatnya ke arah Ija. Dia tersenyum mendapati aku melihatnya. Aku berbalik kembali kearah bangku. Aku terkejut lalu tidak membalas senyumnya. Dia terkadang membuat aku salah tingkah. Dan ini adalah salah satu kelucuannya. Disertai dengan kejahilannya menggelitik hati.
Tiba-tiba dia menghampiriku, dan memulai percakapannya.
“Makan yang banyak ya Azmi! Besok aku mau futsal, kamu bawa bekelnya 2 porsi ya buat aku 1,”Katanya.
Lalu ia berlalu pergi keluar kelas. Anak-anak yang ada di kelas pun melihat ke arahku dan Ija saat itu. Aku tidak tahu harus bersikap apa.
Besoknya seperti biasa belajar dari pagi hingga siang. Tapi ketika jam pelajaran terakhir, saat itu jam pelajaran kosong. Gurunya sedang sakit. Anak-anak diam di kelas. Sebagian ada yang membaca buku, mengobrol, dan ada yang bermain kartu remi. Itu salah satu kenakalan yang dilakukan oleh teman-teman sekelas khususnya laki-laki. Ija pun menjadi salah satunya. Aku memilih untuk mengobrol bersama Indah. Tiba-tiba dari arah teman-teman yang bermain kartu remi, mereka berteriak-teriak.
“Kamu kalah, hayu hukum, teman-teman.” Sorak seseorang
“Iya kalem, sok apa hukumannya?” Itu suara Ija.
“Hukumannya... nyanyi aja. Tapi harus bagus. Kalo gak bagus, kamu di iket di tiang bendera.” Kata seseorang.
“Iket aja langsung.”
“Temen-temen pengen denger suara orang tampan tuh,” kata Agung meledek.
“Oke. Rangga, bantuin! Pinjem gitar di kelas sebelah.” Kata Ija.
Rangga pun membawa gitar ke kelas sebelah lalu kembali ke kelas. Ia langsung menghampiri Ija yang telah berdiri di depan kelas. Lalu, Ija pun berbisik pada Rangga. Mungkin dia memberikan judul lagu apa yang ia akan nyanyikan.
Lalu mereka mulai. Lagu yang Ija nyanyikan adalah lagu Dealova-nya Once. Ditemani petikan melodi gitar oleh Rangga. Dan saat itu juga, aku baru sadar kalau suara Ija lumayan bagus.
Tiba di lirik reff, Ija pun bernyanyi dengan ditonton teman sekelas. Tiba-tiba Ija menghampiriku.
“Kau seperti nyanyian dalam hatiku yang memanggil rinduku padamu ooo...”
Ija meraih tanganku. Aku otomatis berdiri. Semua mata melihat ke arahku dan Ija. Mukaku merah pada saat itu. Aku benar-benar malu. Seperti diperlakukan romantis dan seperti menjadi orang yang istimewa oleh Ija. Hari itu, ada perasaan yang mengalir begitu saja.
Sepulang sekolah, aku mengunjungi perpustakaan. Mencari buku untuk tugas ditemani oleh Indah. Setelah memilih-milih buku, aku sempatkan membaca terlebih dahulu sambil menunggu ayahku menjemput. Tiba-tiba ada seseorang datang menghampiriku dengan langkah agak berlari.
“Ami, itu Ija futsal terus kaya yang berantem,” katanya dengan nafas terengah-engah.
Aku tidak berkata apa-apa. Aku hanya langsung berlari keluar perpustakaan dan menuju lapangan. Indah pun mengikutiku.
Di lapang, pandanganku menyapu seluruh sudut lapangan. Aku tak menemui anak-anak kelas disana. Lalu, Indah berteriak memberitahuku kalau teman-teman ada di dalam kelas. Aku berlari menyusul.
Tanpa sepatah kata, aku langsung menemui Ija yang tengah duduk. Ia menatapku lalu tersenyum.
“Kenapa?” tanyanya.
“Kamu berantem? Kamu gak apa-apa?”
“Kamu jangan khawatir! Bukan berantem, Cuma dorong-dorong dikit.”
“Gara-gara apa?”
“Gara-gara celanaku sobek. Lihat!”
Ija pun memperlihatkan celananya yang sobek. Ia mengangkang sedikit. Teman-teman yang masih di dalam kelas pun tertawa. Aku pun tertawa.
“Bawa bekal makanan lagi gak?” tanya Ija.
“Gak, Ja. Ami lupa,”
“Yaudah, gak apa. Kamu mau pulang? Aku antar ya!” Ajak Ija.
“Gak usah, aku nunggu jemputan.”
“Gak apa aku anter ya,” Ija pun berdiri lalu meraih tasnya.
“Aku ambil dulu buku-bukuku di perpus ya,” aku langsung berlari menuju perpus dan kembali ke kelas.
Saat aku kembali, Ija sudah siap dengan jaketnya dan memakai tasnya. Aku pun pamit pada Indah juga teman-teman yang lain.
Sembari jalan menuju halaman parkir sekolah, aku mengetik pesan untuk ayahku agar tidak usah menjemput. Lalu aku menyimpan handphoneku kembali dan melihat Ija berjalan di depanku. Aku pun menyusulnya. Kita berjalan berdampingan.
Di perjalanan pulang, cuaca mulai mendung. Ija memakai helm sedangkan aku tidak. Ia minta maaf karena tidak mempersiapkan apapun saat ia mengantarku pulang. Aku bilang itu tidak apa-apa.
Tiba-tiba hujan turun saat setengah perjalanan lagi menuju rumah. Kita putuskan berteduh di depan sebuah mini market.
“Tunggu hujan reda ya,” katanya.
“Hah? Apa? Gak kedengeran,” kataku dengan nada gak teriak.
Saat itu hujannya deras sekali. Sampai-sampai aku bicara pada Ija dengan nada berteriak.
“Kamu mau jajan dulu?” tanya Ija
“Apa?” kataku.
“Mau jajan dulu?” kata Ija dengan nada sedikit teriak dan berusaha berbicara agak dekat dengan telingaku.”
“Gak, makasih.” Kataku singkat
“Kalo jadi pasanganku, mau?”
“Apa, Ja?”
“Budeg! Gak jadi. Hahaha.” Ia pun tertawa.
Aku tersenyum karena tidak mendengar kata itu dengan jelas. Tadinya aku memastikan, tapi ia malah tidak mengatakannya lagi.
Hujan pun agak sedikit reda. Aku mengajaknya untuk pulang. Ia pun kembali mengantarkanku.
Hujannya menjadi gerimis. Baju kami berdua mulai basah. Padahal Ija menyimpan jas hujan di motornya. Katanya ia kuat hanya dengan menggunakan jaketnya saja.
Sampai dirumah, aku mengajaknya untuk masuk dulu kerumah. Ia mau lalu memarkirkan motornya di halaman rumah. Aku masuk lalu Ija menyusul masuk. Aku membawakan handuk untuknya lalu kembali ke dalam kamar untuk berganti pakaian. Setelah selesai, aku segera menemui Ija di ruang tamu.
“Ja, aku buatin minuman hangat ya,”
“Iya boleh, mau aku temenin?”
“Gak usah, Ja,” aku pun berjalan ke dapur.
Aku membawakannya teh manis hangat. Ia langsung meminumnya. Katanya itu kesukaannya. Lalu aku memperhatikan sikap duduknya. Ia seperti tidak nyaman untuk duduk. Iya, itu karena celananya sobek. Aku pun membawa celana training yang masih longgar ketika aku yang mengenakan. Saat itu juga berbarengan dengan datangnya ibuku. Ia langsung mengucapkan salam dan berkenalan dengan Ija. Ia juga menyuruhku untuk membuatkan lagi minuman untuk Ija.
Ija pergi mengganti celananya lalu kembali ke ruang tamu. Aku pun kembali ke ruang tamu sambil membawa lagi teh manis hangat.
“Kenapa bisa sampai sobek gitu, Ja?” aku memulai percakapan.
“Oh, ini karena aku menerima umpan lambung. Aku melebarkan kakiku sampai celanaku jadi begini. Hahaha.”
“Kamu ini! Kalau hobi, harus hati-hati.”
“Iya, hobiku kan ini. Nyobekin celana. Hahaha.”
“Hahaha.”
“Mamahku juga hobi. Hobi jahitin celanaku yang sobek lagi sobek lagi.”
“Hahaha.”
Sore itu, aku sangat suka cara bicaranya dan tertawa bersamanya. Itulah potongan kecil kelucuannya.
Esoknya, aku kurang enak badan. Mungkin karena kedinginan kemarin. Aku istirahat dirumah. Beberapa teman menghubungiku, menanyakan keadaanku dan juga memberitahuku PR hari itu.
Siangnya, ada yang datang. Itu Ija dan Rangga. Yang mengetuk pintu adalah Rangga. Aku membukanya dan mempersilahkan mereka masuk.
“Gak usah, jangan masuk Ga! Biar Ami istirahat. Ini Ija bawain ini buat kamu,” kata Ija yang masih berdiri di samping motornya lalu membawa sebuah kantong kresek dari motornya itu.
“Ini.”
“Ija masuk dulu. Gak enak, masa ngasihin sesuatu tapi orangnya diem diluar.” Kataku.
Ia pun masuk bersama dengan Rangga. Aku membuatkan mereka minum. Untungnya aku masih bisa melakukan hal-hal kecil itu, karena aku bukannya sakit, tapi kurang enak badan.
“Ada apa?” kataku sambil menyimpan gelas di atas meja ruang tamu.
“Tuh... Si Ija ini mah. Aku cuma nganter doang.” Kata Rangga.
Ija tersenyum malu.
“Panggilin temen-temen yang lain juga, gak apa-apa kok,” kataku.
“Beneran, Mi?” tanya Rangga.
Aku menjawabnya dengan mengangguk dan tersenyum. Lalu Rangga pun permisi keluar untuk menghubungi semua teman-teman. Rangga agak lama diluar tepatnya di teras rumahku. Sementara itu, ada ucapan Ija yang tak pernah diduga.
“Azmi, kamu gak jawab pertanyaanku kemarin.”
“Yang mana, Ja?”
“Langsung aja ya, kamu harus mau jadi pasanganku!”
Sontak aku diam disana. Aku takut telingaku salah menerima kata-kata. Itu bukan pertanyaan tapi pernyataan. Pernyataan kalau aku harus mau bersama Ija. Yang aku terima itu saja. Aku bingung, tak tahu harus bicara apa.
“Ja...”
“Iya?”
“Aku harus jawab apa?”
“Gak usah jawab.”
“Tapi... Azmi gak bisa.”
“Iya, Mi. Tapi kita tetep jadi pasangan, pasangan yang harus sehat. Jangan sakit-sakitan! Kamu harus makan, minum obat. Ini Ija, bawain kue sama... boneka. Ija harap Ami suka.” Katanya sambil membuka isi kantong kresek besar itu.
“Ja...”
“Iya Mi, Ija ngerti. Ija sependapat sama kamu.”
Lalu masuklah Rangga dan melihat ada boneka di tangannya Ija. Ia hampir tidak percaya Ija bisa bawakan aku sebuah boneka. Ia tertawa.
Beberapa saat kemudian, teman-teman yang lain tiba. Mereka memarkirkan motor di halaman rumahku lalu masuk. Mereka membawakanku makanan, tapi makanan itu aku hidangkan untuk mereka. Saat itu, kami memakannya bersama hingga sore tiba. Hujan yang mulai mengguyur membuat mereka lama tinggal. Membuat percakapan kami berputar dan terus mengalir tanpa henti. Lelucon Ija dan Agung mendominasi membuat kami semua tertawa. Dan yang aku tangkap saat itu, Ija tidak kecewa terhadap apa yang jadi pilihanku. Ia sependapat. Dan ia pun mau menjadi teman baikku dan tak pernah lupa membuat aku tersenyum sepanjang harinya disekolah. Meski beberapa leluconnya itu menyebalkan, tapi aku suka dia dengan segala yang ia miliki. Dengan segala kelucuannya. Iya, dia lucu.

Hai, Preman

“Panitia kompetisi futsal diharapkan mengikuti rapat sekaligus technical meeting pertama sepulang sekolah di ruangan OSIS. Terima kasih”
Itu adalah isi pesan singkat yang Diva buka pagi itu, tepat saat ia tiba di sekolahnya. Ia tidak membalas pesan itu. Ia pun segera masuk ke kelasnya. Belajar dari pagi hingga waktu pulang sekolah tiba.
Sepulang sekolah, ia pergi ke ruangan OSIS. Disana, Diva sudah mendapati teman-temannya. Sebagian sudah mengumpul, sebagian lagi belum bubaran.
“Kita mulai aja ya, sambil nunggu yang lainnya. Soalnya pukul 4 sore, kita mau techmeet sama perwakilan tiap kelas.” Kata ketua pelaksana.
Mereka rapat dengan tenang, tidak terlalu serius. Ada sela-sela waktu dimana mereka bisa bercanda. Diva sangat menikmati.
Lalu tepat pukul 4, dilanjutkan dengan technical meeting bersama perwakilan kelas. Ruangannya berpindah jadi di kelas XI Ipa 1, tepat di sebelah ruangan OSIS. Disana sudah datang perwakilan tiap kelas. Diva masuk dan ia duduk diantara teman-temannya.
“Assalamu’alaikum. Maaf terlambat,” kata seseorang yang baru datang.
“Gak, Kang. Silahkan masuk. Baru mau dimulai kok,” kata ketua pelaksana.
Diva memandangi sosok yang baru datang itu. Ia menyadari itu kakak kelasnya. Ia pun memperhatikan penampilannya. Dan ia menyadari penampilan kakak kelasnya itu tidak mentaati peraturan sekolahannya. Rambutnya agak gondrong, dan seragamnya tidak dimasukan ke dalam celana.
Techmeet dimulai. Dan berlangsung hingga pukul 5 sore.
Diva pamit kepada teman-teman yang lain. Ia pun menyusuri koridor dan menuju gerbang. Sesampainya di gerbang, ada seseorang yang menyapanya.
“Hey, panitia ya?”
Diva menoleh, “Eh, iya?”
Ia mengenalinya. Itu adalah kakak kelasnya yang tadi terlambat datang ketika techmeet.
“Mau pulang bareng?” tanyanya.
“Gak, Kak. Makasih.”
“Beneran?”
“Iya gak apa-apa Kak,”
“Yaudah, saya duluan ya. Kamu hati-hati!” katanya sambil menghidupkan motornya lalu berlalu pergi.
Diva baru menyadari, kakak kelasnya yang seperti preman itu ternyata baik dan murah senyum.
Esoknya, Diva agak sibuk. Ia mencari sumber referensi untuk tugasnya di perpustakaan. Ia menemukan buku yang ia inginkan, tepatnya di rak paling belakang di ujung dan dibagian bawah. Ia pun membuka-buka bukunya itu, membaca sekilas di lantai dan ia pun duduk di lantai. Tiba-tiba, ia melihat ada sepatu dekat dengan tempat ia duduk. Ia pun melihat orang yang mengenakan sepatunya, pandangannya melihat ke arah atas. Ia mendapati kakak kelas yang ia sebut si preman itu. Kakak kelasnya itu tengah melihat-lihat buku dan mengenakan headseat di telinganya. Ia pun menyadari ada yang melihatnya dan mendapati Diva yang tengah melihatnya. Ia pun mendekati Diva dan jongkok dekat Diva.
“Yang kemarin ya? Kamu ngapain duduk di lantai?”
“Eh, kakak. Ini, Kak. Eee...”
“Saking rajinnya ya, lanjutkan ya de,” katanya sambil tersenyum.
Si preman itu pun berdiri lalu pergi meninggalkan Diva. Diva pun sadar kalau ia malu dan mungkin mukanya memerah. Ia pun melanjutkan mencari referensi tugasnya.
Kompetensi futsal pun di mulai. Diva dan teman-teman OSISnya menjadi panitia. Ia diberikan tugas di bagian P3K bersama 3 orang teman lainnya dan teman-teman dari PMR juga. Ia bersiap di sisi lapangan.
Siang itu, siang yang agak panas. Diva pun sudah mulai kelelahan. Ia pun duduk di bawah mengenai tanah dengan mata lelahnya. Tiba-tiba ia merasakan ada seseorang yang memperhatikannya. Ia pun menoleh ke arah kananya dan mendapati si preman memandanginya. Si preman itu langsung menghampirinya dan ikut duduk di samping Diva.
“Kamu cape ya? Ini minum de,” kata si preman sambil menyodorkan botol minum ke Diva.
“Eh iya, Kak. Makasih,”
“Semangat ya ade panitia,” kata si preman sambil ia memegang kepala Diva lalu tersenyum.
Diva membalas senyumannya. Dan si preman pun berdiri lalu pergi menuju teman-temannya. Pandangan Diva pun menuju ke arah punggung si preman. Ternyata orang itu peduli padanya, dan itu adalah perasaan yang aneh yang ia rasakan saat itu.
Kompetisi dimulai kembali. Para penonton masih memadati lapangan sekolah. Diva masih berada di pinggir lapangan. Jam 14.00, tim kelas 12 bermain. Dan yang bermain saat itu adalah kelasnya si kakak preman.
Permainan berjalan agak tegang. Satu atau dua orang pemain ada yang terbawa emosi. Tiba-tiba satu pelanggaran tertuju pada kakak preman itu. Dan ia pun membalasnya. Disitu agak memanas permainan. Ada sedikit adu pukul. Diva berdiri melihat apakah ada yang terluka atau tidak. Para panitia yang lelaki mencoba untuk memisahkan pemain yang adu pukul. Setelah kerumunan tim pemisah itu agak menjauh dari tkp, Diva melihat si preman itu terluka di bagian pelipis, pinggir mulutnya dan kakinya. Dia hampir penuh dengan memar. Diva pun mengajak tim PMR untuk ikut membantu menolong si preman. Sementara teman-teman yang lain mencoba menolong pemain lain yang terluka. Diva pun segera menuju si preman. Mencoba membuat si preman berdiri. Ia menuntunnya ditemani dengan rekan PMR lain. Mereka pun ke pinggir lapangan untuk melakukan pertolongan pertama.
“Kak, sebentar ya, di obat dulu.” Kata Diva.
“Gak usah, gak usah.” Si preman menolak.
“Memarnya kak… Sebentar kok.”
Si preman pun duduk dengan nafasnya yang masih terengah-engah. Diva mencoba mengobati memar-memar yang ada di wajahnya.
“Udah selesai kak, maaf kalo sakit.”
“Gak apa. Makasih de.” Kata si preman sambil tersenyum.
Diva pun segara membereskan alat-alat P3K lalu berdiri untuk kembali ke dekat panitia lainnya.
“Eh, mau kemana? Temani saya, disini aja.” Kata si preman.
“Eh, tapi aku mau kesana kak.”
“Gak usah, disini aja. Lagian pertandingannya juga bentar lagi udahan.”
“Eh, gak apa-apa emang kak?”
“Gak apa. Sini!”
Diva pun duduk di samping si preman. Ia tidak tahu akan seperti ini. Dadanya berdegup dengan irama yang agak aneh. Dia tidak tahu apakah ini gugup atau dia kelelahan.
Kompetisi hari itu selesai. Paniti dia akhri acara melakukan evaluasi. Setelah evaluasi, Diva pulang. Sekolah mulai senyap sore itu. Ia pun segera berpamitan dan menuju gerbang untuk pulang.
Di gerbang, ada suara yang memanggilnya dari arah belakang.
“Diva!”
Diva pun menoleh ke arah belakang dan mendapati si preman menuju ke arahnya dengan berjalan agak pincang. Dia bingung, kenapa si preman tahu namanya.
“Eh, kakak. Belum pulang?”
“Iya nunggu kamu. Yuk pulang bareng.”
“Eh, gak usah kak. Kasian kakak, harusnya kakak istirahat.”
“Kali ini jangan nolak! Anggap aja ini tanda terima kasih. Tadi kamu kan yang nolong saya.”
“Eh, gak usah kak.”
“Yuk!” kata si preman sambil meraih tangan Diva dan menuntunnya. Mereka pun masuk ke halaman parkiran. Menaiki motor si preman dan pergi meninggalkan sekolah.
Di perjalanan, Diva bingung harus berkata apa. Ia sama sekali salah tingkah, dan Diva hanya diam.
“Diva, rumah kamu dimana?”
“Eh iya kak. Dari sini lurus aja nanti ada pertigaan belok kanan, terus belok kiri ada gang. Ihsan. Nah, rumahku di sebelah gang itu kak.”
“Oke siap.”
Beberapa menit kemudian, mereka sampai di depan rumahnya Diva. Diva pun segera turun dari motor dan mengucapkan terima kasih pada si preman.
“Eh, Diva. Nama kita samaan lho.”
“Oh, iya kak?”
“Saya Dika. Kamu Diva. Hahaha.”
“Hahaha.”
“Kamu masuk, istirahat ya.”
“Eh iya kak, kakak juga. Makasih ya.”
“Iya. Pamit ya. Assalamualaikum.” Si preman pun berlalu pergi sambil tersenyum.
Diva melihat punggung si preman itu. Ia tersenyum melihat si preman yang tak seperti lelaki lain. Ia pun senang akhirnya tahu namanya. Dan saat itu ada rasa yang ia rasakan aneh dan tidak biasanya. Ia pun segera memasuki rumahnya dan berkata di dalam hatinya.
“Senang mengenalmu, Preman.”

Si Lucu

Aku Azmi, panggil saja Ami. Duduk di kelas 11 yaitu kelas 2 SMA. Ini kelas baru, semester baru, jadwal baru, dan teman-teman baru. Sekolahku sistemnya setiap kenaikan kelas, kelasnya diacak siswanya. Jadi kita bisa lebih tahu banyak teman.
Aku duduk di bangku yang kedua dari depan. Bersama temanku, Indah. Ada beberapa teman yang dulu pernah sekelas bersamaku. Tapi ada pula siswa dari kelas lainnya. Mereka ada yang mengenaliku ada juga yang tidak. Kebanyakannya sih, tidak. Termasuk Ija. Namanya Fachrija, tapi katanya ia lebih suka dipanggil Ija. Orangnya lucu, dan berikut adalah kelucuannya.
Pelajaran demi pelajaran kami lalui. Hari demi hari kami lalui. Dari mulai kimia, fisika, biologi dan matematika. Aku hampir setengah stres. Tapi banyak faktor yang membuat aku bisa terus semangat. Indah juga salah satu teman sebangku yang tidak lupa mengingatkanku akan PR, jadwal ulangan harian, dan kita berdua banyak sharing soal pelajaran. Aku suka dia.
Hari itu, Rabu 20 November 2013. Pelajaran hari itu ialah Pendidikan Kewarganegaraan (KWN), Kimia dan Matematika. Dan hari itu adalah hari dimana LKS (lembar kerja siswa) mata pelajaran KWN dikumpulkan untuk dinilai oleh guru. Aku mengumpulkan LKS-ku. Indah juga. Yang lainnya juga. Tiba-tiba Ibu Laras memanggil sebuah nama.
“Fachrija?” kata Bu Laras dengan nada bertanya.
Ija pun berdiri tapi dia masih diam ditempatnya. Ibu Laras melihatnya.
“Kamu Fachrija?” tanyanya.
“Iya Bu,” jawab Ija.
“Kepanjangannya ini… Fachrija Tampan.” Kata Bu Laras.
Sontak aku dan yang lainnya tertawa. Kelas jadi agak ricuh saat itu. Ada yang ledekin Ija ada yang  ketawain Ija. Macem-macem. Ketika suara tawaan kita terhenti, Ija pun mulai menjelaskan.
“Nama adalah sebuah doa, Bu. Semoga aja dengan kata tampan dibelakang nama saya, itu bisa membuat saya tampan.” Jelas Ija.
Hahaha. Kami semua tertawa kembali.
“Ini bukunya ambil. Cepat perbaiki namanya!” Kata Bu laras
Ija pun berjalan kearah meja guru. Lalu mengambil bukunya dan kembali ke bangkunya.
Pelajaran telah usai. Bel pun berbunyi tanda waktunya istirahat. Seperti biasa, sebagian menyerbu kantin sebagian diam dikelas. Hari itu aku bekal makanan jadi tidak pergi ke kantin. Indah pun bekal makanan juga. Ia terus menemaniku. Segerombolan kawan sedang berkumpul di bangku belakang. Aku pikir itu anak-anaknya Ija. Ternyata benar. Mereka asyik mengobrol.
“Eh, Ja, nama kamu beneran ganti?” Tanya Rangga.
“Ah, iya. Itu doa.”
“Doa apa, Ja?”
“Doa biar Ija tampan, berdampingan dengan Azmi cantik.”
Kata-kata itu terdengar hingga ke seluruh sudut ruangan kelas. Sontak aku berhenti mengunyah. Lalu menoleh ke arah Indah. Dan dia bilang bahwa itu suara Fachrija. Aku pun menoleh ke belakang, tepatnya ke arah Ija. Dia tersenyum mendapati aku melihatnya. Aku berbalik kembali kearah bangku. Aku terkejut lalu tidak membalas senyumnya. Dia terkadang membuat aku salah tingkah. Dan ini adalah salah satu kelucuannya. Disertai dengan kejahilannya menggelitik hati.
Tiba-tiba dia menghampiriku, dan memulai percakapannya.
“Makan yang banyak ya Azmi! Besok aku mau futsal, kamu bawa bekelnya 2 porsi ya buat aku 1,”Katanya.
Lalu ia berlalu pergi keluar kelas. Anak-anak yang ada di kelas pun melihat ke arahku dan Ija saat itu. Aku tidak tahu harus bersikap apa.
Besoknya seperti biasa belajar dari pagi hingga siang. Tapi ketika jam pelajaran terakhir, saat itu jam pelajaran kosong. Gurunya sedang sakit. Anak-anak diam di kelas. Sebagian ada yang membaca buku, mengobrol, dan ada yang bermain kartu remi. Itu salah satu kenakalan yang dilakukan oleh teman-teman sekelas khususnya laki-laki. Ija pun menjadi salah satunya. Aku memilih untuk mengobrol bersama Indah. Tiba-tiba dari arah teman-teman yang bermain kartu remi, mereka berteriak-teriak.
“Kamu kalah, hayu hukum, teman-teman.” Sorak seseorang
“Iya kalem, sok apa hukumannya?” Itu suara Ija.
“Hukumannya... nyanyi aja. Tapi harus bagus. Kalo gak bagus, kamu di iket di tiang bendera.” Kata seseorang.
“Iket aja langsung.”
“Temen-temen pengen denger suara orang tampan tuh,” kata Agung meledek.
“Oke. Rangga, bantuin! Pinjem gitar di kelas sebelah.” Kata Ija.
Rangga pun membawa gitar ke kelas sebelah lalu kembali ke kelas. Ia langsung menghampiri Ija yang telah berdiri di depan kelas. Lalu, Ija pun berbisik pada Rangga. Mungkin dia memberikan judul lagu apa yang ia akan nyanyikan.
Lalu mereka mulai. Lagu yang Ija nyanyikan adalah lagu Dealova-nya Once. Ditemani petikan melodi gitar oleh Rangga. Dan saat itu juga, aku baru sadar kalau suara Ija lumayan bagus.
Tiba di lirik reff, Ija pun bernyanyi dengan ditonton teman sekelas. Tiba-tiba Ija menghampiriku.
“Kau seperti nyanyian dalam hatiku yang memanggil rinduku padamu ooo...”
Ija meraih tanganku. Aku otomatis berdiri. Semua mata melihat ke arahku dan Ija. Mukaku merah pada saat itu. Aku benar-benar malu. Seperti diperlakukan romantis dan seperti menjadi orang yang istimewa oleh Ija. Hari itu, ada perasaan yang mengalir begitu saja.
Sepulang sekolah, aku mengunjungi perpustakaan. Mencari buku untuk tugas ditemani oleh Indah. Setelah memilih-milih buku, aku sempatkan membaca terlebih dahulu sambil menunggu ayahku menjemput. Tiba-tiba ada seseorang datang menghampiriku dengan langkah agak berlari.
“Ami, itu Ija futsal terus kaya yang berantem,” katanya dengan nafas terengah-engah.
Aku tidak berkata apa-apa. Aku hanya langsung berlari keluar perpustakaan dan menuju lapangan. Indah pun mengikutiku.
Di lapang, pandanganku menyapu seluruh sudut lapangan. Aku tak menemui anak-anak kelas disana. Lalu, Indah berteriak memberitahuku kalau teman-teman ada di dalam kelas. Aku berlari menyusul.
Tanpa sepatah kata, aku langsung menemui Ija yang tengah duduk. Ia menatapku lalu tersenyum.
“Kenapa?” tanyanya.
“Kamu berantem? Kamu gak apa-apa?”
“Kamu jangan khawatir! Bukan berantem, Cuma dorong-dorong dikit.”
“Gara-gara apa?”
“Gara-gara celanaku sobek. Lihat!”
Ija pun memperlihatkan celananya yang sobek. Ia mengangkang sedikit. Teman-teman yang masih di dalam kelas pun tertawa. Aku pun tertawa.
“Bawa bekal makanan lagi gak?” tanya Ija.
“Gak, Ja. Ami lupa,”
“Yaudah, gak apa. Kamu mau pulang? Aku antar ya!” Ajak Ija.
“Gak usah, aku nunggu jemputan.”
“Gak apa aku anter ya,” Ija pun berdiri lalu meraih tasnya.
“Aku ambil dulu buku-bukuku di perpus ya,” aku langsung berlari menuju perpus dan kembali ke kelas.
Saat aku kembali, Ija sudah siap dengan jaketnya dan memakai tasnya. Aku pun pamit pada Indah juga teman-teman yang lain.
Sembari jalan menuju halaman parkir sekolah, aku mengetik pesan untuk ayahku agar tidak usah menjemput. Lalu aku menyimpan handphoneku kembali dan melihat Ija berjalan di depanku. Aku pun menyusulnya. Kita berjalan berdampingan.
Di perjalanan pulang, cuaca mulai mendung. Ija memakai helm sedangkan aku tidak. Ia minta maaf karena tidak mempersiapkan apapun saat ia mengantarku pulang. Aku bilang itu tidak apa-apa.
Tiba-tiba hujan turun saat setengah perjalanan lagi menuju rumah. Kita putuskan berteduh di depan sebuah mini market.
“Tunggu hujan reda ya,” katanya.
“Hah? Apa? Gak kedengeran,” kataku dengan nada gak teriak.
Saat itu hujannya deras sekali. Sampai-sampai aku bicara pada Ija dengan nada berteriak.
“Kamu mau jajan dulu?” tanya Ija
“Apa?” kataku.
“Mau jajan dulu?” kata Ija dengan nada sedikit teriak dan berusaha berbicara agak dekat dengan telingaku.”
“Gak, makasih.” Kataku singkat
“Kalo jadi pasanganku, mau?”
“Apa, Ja?”
“Budeg! Gak jadi. Hahaha.” Ia pun tertawa.
Aku tersenyum karena tidak mendengar kata itu dengan jelas. Tadinya aku memastikan, tapi ia malah tidak mengatakannya lagi.
Hujan pun agak sedikit reda. Aku mengajaknya untuk pulang. Ia pun kembali mengantarkanku.
Hujannya menjadi gerimis. Baju kami berdua mulai basah. Padahal Ija menyimpan jas hujan di motornya. Katanya ia kuat hanya dengan menggunakan jaketnya saja.
Sampai dirumah, aku mengajaknya untuk masuk dulu kerumah. Ia mau lalu memarkirkan motornya di halaman rumah. Aku masuk lalu Ija menyusul masuk. Aku membawakan handuk untuknya lalu kembali ke dalam kamar untuk berganti pakaian. Setelah selesai, aku segera menemui Ija di ruang tamu.
“Ja, aku buatin minuman hangat ya,”
“Iya boleh, mau aku temenin?”
“Gak usah, Ja,” aku pun berjalan ke dapur.
Aku membawakannya teh manis hangat. Ia langsung meminumnya. Katanya itu kesukaannya. Lalu aku memperhatikan sikap duduknya. Ia seperti tidak nyaman untuk duduk. Iya, itu karena celananya sobek. Aku pun membawa celana training yang masih longgar ketika aku yang mengenakan. Saat itu juga berbarengan dengan datangnya ibuku. Ia langsung mengucapkan salam dan berkenalan dengan Ija. Ia juga menyuruhku untuk membuatkan lagi minuman untuk Ija.
Ija pergi mengganti celananya lalu kembali ke ruang tamu. Aku pun kembali ke ruang tamu sambil membawa lagi teh manis hangat.
“Kenapa bisa sampai sobek gitu, Ja?” aku memulai percakapan.
“Oh, ini karena aku menerima umpan lambung. Aku melebarkan kakiku sampai celanaku jadi begini. Hahaha.”
“Kamu ini! Kalau hobi, harus hati-hati.”
“Iya, hobiku kan ini. Nyobekin celana. Hahaha.”
“Hahaha.”
“Mamahku juga hobi. Hobi jahitin celanaku yang sobek lagi sobek lagi.”
“Hahaha.”
Sore itu, aku sangat suka cara bicaranya dan tertawa bersamanya. Itulah potongan kecil kelucuannya.
Esoknya, aku kurang enak badan. Mungkin karena kedinginan kemarin. Aku istirahat dirumah. Beberapa teman menghubungiku, menanyakan keadaanku dan juga memberitahuku PR hari itu.
Siangnya, ada yang datang. Itu Ija dan Rangga. Yang mengetuk pintu adalah Rangga. Aku membukanya dan mempersilahkan mereka masuk.
“Gak usah, jangan masuk Ga! Biar Ami istirahat. Ini Ija bawain ini buat kamu,” kata Ija yang masih berdiri di samping motornya lalu membawa sebuah kantong kresek dari motornya itu.
“Ini.”
“Ija masuk dulu. Gak enak, masa ngasihin sesuatu tapi orangnya diem diluar.” Kataku.
Ia pun masuk bersama dengan Rangga. Aku membuatkan mereka minum. Untungnya aku masih bisa melakukan hal-hal kecil itu, karena aku bukannya sakit, tapi kurang enak badan.
“Ada apa?” kataku sambil menyimpan gelas di atas meja ruang tamu.
“Tuh... Si Ija ini mah. Aku cuma nganter doang.” Kata Rangga.
Ija tersenyum malu.
“Panggilin temen-temen yang lain juga, gak apa-apa kok,” kataku.
“Beneran, Mi?” tanya Rangga.
Aku menjawabnya dengan mengangguk dan tersenyum. Lalu Rangga pun permisi keluar untuk menghubungi semua teman-teman. Rangga agak lama diluar tepatnya di teras rumahku. Sementara itu, ada ucapan Ija yang tak pernah diduga.
“Azmi, kamu gak jawab pertanyaanku kemarin.”
“Yang mana, Ja?”
“Langsung aja ya, kamu harus mau jadi pasanganku!”
Sontak aku diam disana. Aku takut telingaku salah menerima kata-kata. Itu bukan pertanyaan tapi pernyataan. Pernyataan kalau aku harus mau bersama Ija. Yang aku terima itu saja. Aku bingung, tak tahu harus bicara apa.
“Ja...”
“Iya?”
“Aku harus jawab apa?”
“Gak usah jawab.”
“Tapi... Azmi gak bisa.”
“Iya, Mi. Tapi kita tetep jadi pasangan, pasangan yang harus sehat. Jangan sakit-sakitan! Kamu harus makan, minum obat. Ini Ija, bawain kue sama... boneka. Ija harap Ami suka.” Katanya sambil membuka isi kantong kresek besar itu.
“Ja...”
“Iya Mi, Ija ngerti. Ija sependapat sama kamu.”
Lalu masuklah Rangga dan melihat ada boneka di tangannya Ija. Ia hampir tidak percaya Ija bisa bawakan aku sebuah boneka. Ia tertawa.
Beberapa saat kemudian, teman-teman yang lain tiba. Mereka memarkirkan motor di halaman rumahku lalu masuk. Mereka membawakanku makanan, tapi makanan itu aku hidangkan untuk mereka. Saat itu, kami memakannya bersama hingga sore tiba. Hujan yang mulai mengguyur membuat mereka lama tinggal. Membuat percakapan kami berputar dan terus mengalir tanpa henti. Lelucon Ija dan Agung mendominasi membuat kami semua tertawa. Dan yang aku tangkap saat itu, Ija tidak kecewa terhadap apa yang jadi pilihanku. Ia sependapat. Dan ia pun mau menjadi teman baikku dan tak pernah lupa membuat aku tersenyum sepanjang harinya disekolah. Meski beberapa leluconnya itu menyebalkan, tapi aku suka dia dengan segala yang ia miliki. Dengan segala kelucuannya. Iya, dia lucu.