Selasa, 19 Mei 2015

Angin

Hujan disini. Disekolah yang sudah sepi ditinggal siswa-siswinya. Tersisa Nizma dan segelintir anak kelas 12 yang tersisa, yang telah melewatkan jam pemantapan tambahan. Mereka menunggu hujan reda. Nizma terduduk di depan ruang piket, melihat air hujan yang jatuh ke tanah. Merasakan dinginnya hembusan angin saat itu.

Beberapa menit kemudian, hujan itu reda. Cukup reda. Ia putuskan untuk berjalan perlahan, sambil menunggu angkutan umum lewat.

Dari arah belakang, ia mendengar suara motor yang tak asing baginya. Suara itu mendekatinya dari belakang. Ketika ia menoleh, ia melihat seseorang yang tak diduga kedatangannya. Seseorang yang dua minggu yang lalu memutuskan untuk pergi darinya, meninggalkan Nizma. Dengan mukanya yg sedikit pucat, "Ayo naik!" katanya. Tanpa berpikir panjang, Nizma pun segera naik dan motor itu berlalu pergi.

Arlan memacu motornya cukup kencang. Hampir buku-buku yang Nizma pegang jatuh. Nizma pun memeluk buku itu. Lalu bertanya-tanya dalam hati, apa maksud kedatangan Arlan? Mengapa Arlan menjemputnya? Mengapa ia kembali?

Berhentilah motor itu didepan sebuah rumah. Nizma sadar, dia tidak diantarkan Arlan pulang ke rumahnya. Tapi Arlan membawa Nizma ke rumah Arlan.
"Ayo masuk!" kata Arlan sambil membuka sepatunya.
Nizma tampak bingung. Ia pun segera mengikuti Arlan membuka sepatunya. Dan mengikuti Arlan memasuki rumahnya.

"Silahkan duduk! Aku mau cari handuk dulu buat kita, dan bikin minuman hangat. Tunggu sebentar ya!", kata Arlan. Tanpa respon apapun, Arlan segera melakukan hal itu. Nizma yang masih bingung, ia hanya mengeluarkan mimik heran tanpa sepatah kata pun. Ia masih dikerumuni pertanyaan yang membuat hatinya bingung.
"Ini handuknya, coba keringin dulu. Terus ini teh hangat, silahkan!" Arlan kembali dengan membawa handuk dan segelas teh hangat. Ia memberikannya kepada Nizma. Nizma masih heran, tapi Arlan membalas keheranan Nizma dengan senyuman. Senyuman itu membuat Nizma semakin bingung.

Nizma sibuk mengeringkan baju, tas dan bukunya. Ia pun tersadar 1 hal. Rumah Arlan sepi. Tampak tak ada seorang pun selain dia dan Arlan. Ia teringat kembali ketika ia berdua di rumah Arlan, menghabiskan waktu dengan memasak makanan seperti mie goreng banyak rasa, lalu nonton film kartun Jepang seperti Naruto atau Samurai X dan Nizma membuatkan Arlan kopi. Ingatan itu kembali merasuki pikirannya. Apakah Arlan menginginkan semua itu kembali dan utuh selamanya? Atau Arlan hanya kembali untuk pergi lagi? Nizma terdiam dengan semua pukulan dalam hatinya.

"Di minum dulu, Neng", kata Arlan.
"Oh iya, makasih a", Nizma menjawab lalu meminum teh hangat itu.
Nizma melihat jam tangannya. Arlan memperhatikannya. "Kamu buru-buru?" tanya Arlan.
"Gak kok," jawab Nizma singkat.

Beberapa menit setelah itu hening seketika. Tak ada kata yang terucap di bibir mereka berdua. Saat itu, Arlan mendekati Nizma, membuat posisi duduk mereka berdekatan. Membuat jarak mereka dekat dari sebelumnya. Hal yang sering dilakukan Arlan terhadap Nizma. Tangan Arlan perlahan meraih tangan Nizma. Hentakan kecil, bagi Nizma. Nizma tak tahu harus berbuat apa. Ia hanya terdiam.

Berhadapan. Mereka berhadapan saling menatap beberapa menit. Pertemuan mata itu, Arlan kalah. Ia tunduk dihadapan Nizma. Terdengar oleh Nizma, Arlan terisak. Suara isakan yang ditahannya. Kenapa dengan Arlan.
"Maafin aku, neng."
Sunyi itu pecah ketika satu kalimat itu terdengar oleh Nizma. Ia heran. Benar-benar heran. Apa yang membuat Arlan tunduk dan meminta maaf kepadanya?
"Harusnya gak kaya gini," lanjut Arlan.
Nizma masih diam.
"Harusnya aa gak pergi. Maafin aa, neng," lanjut Arlan lagi.
Keheranan Nizma pecah. Heran itu berubah menjadi tangis. Ia meneteskan air mata. Ia tak bisa menahannya. Dadanya sesak seketika. Ternyata kepergian Arlan membuat Nizma sakit.

"Kenapa mesti pergi?" Kata Nizma dengan nada lirih.
Arlan butuh beberapa menit untuk menangkap dan menjawab kata tanya Nizma.
"Harusnya gak kaya gini, aku sadar. Bukan dia, melainkan kamu," jawab Arlan.

Nizma diam. Ia melihat Arlan yang masih tunduk dan memegang erat tangannya.
"Lalu apa sekarang?" tanya Nizma.
"Bolehkah aku terus menggenggammu? Aku menyesal melepas," kata Arlan sambil menegakkan kepalanya kembali dan menatap Nizma. Nizma terenyuh. Entah apa yang harus ia katakan. Ia tak tahu jawabannya. Ia takut Arlan pergi lagi. Ia terlalu takut.

Arlan menatap Nizma. Menunggu jawaban. Penuh harap. Nizma pun hanya mengangguk dan tersenyum. Senyum simpul. Arlan menghembuskan nafas. Lega rasanya meski jawabannya hanya mengangguk.
Arlan menarik tangannya Nizma. Tubuh Nizma dipeluknya. Erat sekali. Nizma hanya terdiam. Pelukan ini sama hangatnya dengan pelukan sebelumnya. Ia merindukan pelukan Arlan. Nizma membalas pelukan Arlan. Tapi tak seerat Arlan. Nizma takut pelukan ini berartikan Arlan akan pergi lagi. Ia juga tak sepenuhnya percaya Arlan kembali. Ia butuh proses.

Beberapa minggu setelah itu, Nizma selesai menempuh salah satu ujian terberat dalam hidupnya, yaitu ujian nasional. Ia melewatinya dengan cukup tenang.

Nizma terbangun. Pagi itu, KBM di sekolahnya sudah berhenti seiring ujian usai. Pagi itu sangat dingin. Ia menolak untuk membuka selimutnya.  Ia pun meraih ponselnya dan mengecek jam lalu mengecek pesan-pesan yang masuk. Arlan ada di salah satu deretan pesan tersebut. Seperti biasa ia dingin dalam hal menulis teks. Lalu, ia mengecek media sosial lainnya. Melihat-lihat profil Arlan. Men-stalk Arlan.

Nizma akhirnya beranjak dari kasurnya. Ia akhirnya melawan gravitasi kasurnya. Ia keluar kamarnya. Rumahnya sudah sepi. Orang tuanya selalu berangkat pagi dan tepat waktu. Mereka pekerja keras. Sama seperti Nizma. Nizma bekerja keras bukan untuk pekerjaan. Ia bekerja keras melawan rasa malasnya.

Keluar dari kamar mandi, Nizma mengeringkan rambutnya yang mulai panjang itu. Terurai hingga punggungnya. Rambut ini tak pernah ia potong semenjak bersama Arlan. Rambutnya jadi saksi Nizma dan Arlan.

Nizma meminum susu hangat yang dibuatnya sendiri. Susu vanilla hangat itu mengingatkan Nizma bahwa ia harus les. Ia harus memulai les kembali untuk uji tulis masuk perguruan tinggi. Ia pun segera menuju kamar dan menyiapkan buku-buku untuk les.

Nizma menuju dapur. Perutnya pun harus siap kembali menerima materi-materi yang harus ia kuasai. Ia membuat sarapan. Nasi goreng, menjadi salah satu alternatif Nizma pagi itu. Ia sangat menyukai menu itu. Nizma sangat pandai memasak. Ia juga pandai mengerjakan pekerjaan rumah lainnya. Sifat keibuanya telah muncul.

Nasi goreng siap. Tiba-tiba terdengar suara motor. Seperti suara motor yang akan parkir di depan rumahnya. Nizma pikir itu kaka iparnya.

Orang itu mengetuk pintu. Nizma heran. Kalau itu kaka iparnya, tumben sekali ia mengetuk pintu. Nizma segera menuju pintu ruang tengah. Membuka pintu dan yang ia lihat bukan kaka iparnya. Arlan ada dibalik pintu itu.

"Hai," sapa Arlan.
"Hai, silahkan!" Nizma mempersilahkan Arlan untuk masuk.
"Lagi apa Niz?" tanya Arlan.
"Beres masak, mau sarapan?"
"Gak neng, gak usah,"
"Kopi?"
"Iya, boleh."

Nizma sudah tahu ia harus membuat apa. Ia kembali ke dapur. Lalu kembali ke ruang tamu, menuju Arlan. Tapi tangannya kosong tidak membawa apa yang Arlan pesan.

Nizma meraih tangan Arlan lalu menariknya. Arlan pun spontan berdiri. Ia ditarik masuk oleh Nizma. Nizma menarik Arlan menuju ruang makan. Di meja makan sudah terlihat dua piring nasi goreng, dan segelas kopi.

"Niz, aku gak akan sarapan. Kamu aja ya," ujar Arlan. "Aku udah kenyang," lanjut Arlan.
"Bohong. Kapan kamu pernah sarapan pagi? Kapan kamu bangun pagi? Ayo makan!" Nizma duduk.
Lalu Arlan pun mengikuti duduk.
"Habisin!" kata Nizma.
Arlan pun tersenyum. Ia senang Nizma sepeduli ini. Ia senang, mungkin ini tidak di rencanakan oleh mereka. Tapi ia senang Nizma mempersiapkannya secepat mungkin. Bagi Arlan, ini seperti kejutan. Mereka pun menghabiskan sarapannya.

"Ngobrolnya di ruang tamu yuk!" ajak Nizma.
"Ayo!"
Mereka kembali ke ruang tamu. Nizma di depan Arlan, membawakan kopi untuk Arlan.

Dari belakang, Arlan meraih Nizma. Memeluk Nizma perlahan. Nizma kaget. Ia kaku tak bisa berbuat apa-apa.
"Makasih pagi ini. Aku senang," kata Arlan.
Pipi Nizma merah. Kata-kata Arlan spontan membuat Nizma mematung. Kata-kata yang lembut dan pelan itu berbisik di dekat telinganya. Merdu. Mesra.

"Kembali kasih. Ayo duduk!" kata Nizma.
Arlan tidak melepas pelukannya. Itu membuat Nizma sulit untuk duduk.
"Lepas dulu, kita duduk," kata Nizma.
Arlan pun melepas pelukannya perlahan. Ia duduk.

Nizma menyimpan segelas kopi itu dan duduk di sofa yang panjang bersama Arlan. Namun mereka di ujung masing-masing sofa. Tidak berdekatan.
Arlan menatap Nizma. Rambutnya yang hitam membuat Nizma tampak cantik pagi itu. Terurai sederhana. Matanya bersinar di penglihatan Arlan.
Arlan mendekati Nizma. Kejadian itu terulang. Duduk berdekatan, berdua, bersama dan menggenggam tangan Nizma.

"Pagi ini sebenernya aku cuma pengen ngopi aja sebelum berangkat ngampus. Tapi, ini udah lebih neng. Makasih," kata Arlan.
"Iya aa," jawab Nizma singkat. Ia selalu kaku.

Arlan tersenyum. Melihat wajah Nizma dan memperhatikan setiap detailnya. Tangannya membelai rambutnya Nizma yang terurai. Arlan menyadari rambut Nizma panjang hingga punggung, rambut Nizma tumbuh bersamaan dengan tumbuhnya Nizma menjadi dewasa dan naluri keibuannya pun muncul. Terasa sekali.
Pipi Nizma kembali merah. Terkadang perlakuan spesial Arlan terhadapnya, membuat Nizma kaku. Tatapan mereka bertemu. Tatapan dalam, penuh makna. Wajah Arlan mendekat, semakin dekat. Nizma diam. Bibir Arlan meraih bibirnya. Nizma diam, ia tahu apa yang ia lakukan. Bibir Arlan yang tadi mengucap kata indah, kini bibir itu meraih bibirnya. Mesra.

Mereka kembali mengobrol. Dibumbui oleh candaan Arlan. Diwarnai tawa mereka berdua. Sampai waktu tak terasa sudah lewat pukul sepuluh.

"Aku harus les sekarang,"kata Nizma.
"Udah mulai lagi ya?" tanya Arlan.
"Iya," jawab Nizma singkat.
"Siap-siap sana! Ganti baju!"
"Iya aa," Nizma pergi menuju kamarnya.

Beberapa menit kemudian, Nizma kembali. Arlan masih duduk disana. Nizma kira Arlan berangkat duluan.
Nizma kurang bersemangat. Saat itu, ia hanya ingin tinggal dirumah, beristirahat dan melihat Arlan pergi kuliah.

"Kenapa?" tanya Arlan.
"Gak, cuma kurang semangat aja," jawab Nizma.
"Semangat Nizmaku, calon perawat."
Kata-kata Arlan itu, membuat semangat Nizma terbangun perlahan. Arlan selalu mengingatkan Nizma ke setiap cita-citanya.
"Aku juga mau pergi, kelas siang kan. Jadi sekalian aku berangkat, aku anter deh." ajak Arlan.
Nizma mengangguk, tersenyum. Mereka pun bersiap. Kemudian berlalu pergi.

Pagi itu tak pernah direncakan. Seketika semua mengalir. Masa-masa itu yang selalu diinginkan mereka. Bagi Nizma, Arlan adalah salah satu alasan semangatnya. Ia seperti angin. Angin yang menghembus kemana ia menghembus. Angin yang menyejukkan. Angin yang berada di bawah sayapnya. Yang menyeimbangkan Nizma. Tanpa Arlan, Nizma tak akan seimbang. Tapi Arlan pun seperti angin yang kesana kemari. Ke timur atau ke barat, angin laut atau angin darat. Angin yang tak Nizma ketahui arahnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar