Rabu, 18 Februari 2015

Lagi, Kembali Lagi


              Aku melihatnya yang tertidur. Matanya menutup, tubuhnya terlentang lemas. Raut wajahnya yang pucat seolah ia sedang bermimpi buruk. Bukan, ia tidak sedang bermimpi. Ia demam.
Aku duduk di kursi dekat jendela kamarnya. Memerhatikan rambutnya, wajahnya, tubuhnya menampilkan kisah sebelumnya. Ia membuat kisah kasih yang hampir tidak pernah lurus. Telah berulang kali ia terjebak dalam kenangannya. Telah berulang kali juga aku merelakannya untuk berjalan terlebih dahulu bersama dengan orang yang sesudahku.
Aku memerhatikan sudut-sudut kamarnya. Temboknya yang kosong tanpa hiasan, sebuah lemari juga cermin dan meja kecil di sebelah ranjangnya. Aku ingat ada sebingkai foto yang dulu masih disimpannya. Rapih di atas meja kecil itu. Tapi kini lain. Meja itu diisi buku-buku juga celengan kecilnya. Mengapa? Entahlah. Mungkin ia telah melepas kenangan itu. Kenangan itu sebenarnya setelah adanya aku. Aku terlebih dahulu digenggamnya, bukan kenangannya.
Lalu ingatanku dipaksa mengingat hal yang pernah mengikis hati. Ia tinggalkan aku untuk hati yang lain, hati perempuan yang lebih baik dari padaku. Tapi ketika hati itu hanya melihatnya sebelah mata, ia memilih untuk kembali kepadaku dan mengatakan bahwa ia tak pernah satu dengan perempuan itu. Apa yang membuatnya kembali? Lalu apa yang membuatku dengan mudah mempersilahkan ia untuk kembali?
Angin berhembus dari celah-celah jendela. Ia lepaskan aku pada ingatan yang hingga saat ini membuat lirih.
Tak lama, angin berhenti meniup. Seketika ada yang lain yang masuk dalam ingatan. Sial! Aku ingat ia membohongiku berulang kali.
Pernah dikala ia telah katakan tidak lagi bersamanya, bersama kenangannya, mulutnya tertutup mengunci. Aku tak tahu lagi mengapa-bagaimana ia bersama perempuan itu. Perempuan yang merampasnya dariku, perempuan yang semua orang tah6u ialah yang pertama. Tapi bukan. Mereka tak pernah tahu siapa yang paling awal.
Aku mengira bahwa mereka berpisah. Lalu ingatanku terlempar pada suatu hari dimana aku melihat perempuan itu memeluknya. Disebuah jalan yang pasti ia tahu itu jalan yang selalu aku lalui. Melihat mereka bersama terguncang seketika. Apa yang ia lakukan?apa ia kembali? Apa mereka tidak berhenti mencintai? Lalu apa yang ia katakan padaku? Kebohongan ataukah tipuan? 
Ia tak pernah selesai dengan kenangannya. Ia memilih kembali. Meninggalkan siapa yang menunggunya. Lalu aku teringat dimana ia datang kepadaku. Lagi. Berselang dua minggu dari kejadian itu, ia datang. Aku melihatnya dibalik pintu rumah. Dengan senyum dan rambutnya yang selalu berantakan, seperti orang yang selesai mandi. Aku balik tersenyum dan memerhatikan rambut, wajah hingga ujung kakinya. Bersamaan dengan kebingungan. Mengapa ia datang?
Sore itu ia menginginkan duduk disampingku. Tangannya meraih tanganku. Tatapan kita bertemu. Detik-detik yang menghilang di hujan kemarin. Kita terdiam. Tanganku merasakan hangat. Bibirnya meraih keningku. Ia merindukanku, sama seperti aku merindunya.

"Kenapa?"
"Hmm gak apa-apa."
"Ada yang gak beres?"
"Iya"
Aku menunggu kelanjutan jawaban "iya" darinya.
"Perempuan itu, ia masih terlilit masa lalunya. Aku melihat ini di akun facebooknya. Ditambah lagi, semuanya tidak berpihak padaku. Aku lelah berpura-pura kuat didepannya. Ia keras kepala. Padahal ia tahu ibunya melarangnya bersamaku. Tapi ia acuhkan perkataan itu," ceritanya sambil memperlihatkan postingan perempuan itu.
Tidak berkata. Aku membisu. Aku hanya menggenggam tangannya. Semoga sentuhanku mengatakan apa yang ingin aku katakan.
Waktu berlalu. Senja datang.  Rambutnya kini rapi, ia selalu memintaku untuk merapihkan rambutnya. Ia pamit. Senyumannya di akhir pertemuan selalu membuatku tersenyum malu. Lalu tangannya menarik tanganku. Membuat tubuhku condong ke depan. Hanya beberapa detik membuat tubuhku didekatnya, terbenam bersama kehangatan. Ia memelukku erat. Aku hanya bisa membalas pelukannya, meski saat itu beribu tanya menghampiri. Semoga saja tanya itu terjawab dengan jawaban indah tentang kisah ini.
Lamunan itu dibangunkan oleh dering telfon HPnya. "Mamah" tulisan dilayar handphonenya.
"Halo, assalamu'alaikum. Neng masih dirumah?" suara dibalik telfon itu.
"Iya masih mah.
"Aanya dimana?"
"Aa udah makan tadi terus tidur, Mah."
"Oh yaudah kalo kesorean pulang aja, nanti ibu khawatir. Mamah juga gak lama lagi pulang."
“oh iya Mah.”
“Makasih neng. Assalamualaikum.”

Mamahnya benar. senja mulai turun berganti malam. Tapi ia masih tertidur.
Aku memegang HPnya. Melihat ada beberapa pesan masuk. Mataku mengarah pada satu pesan. Nama pengirimnya "Mirah Ingsun". Aku ingat. Perempuan yang dekat dengannya sekarang. Satu perempuan lagi yang memaksaku untuk diam dan menggeserkanku. Aku menghela nafas panjang. Berucap dalam hati semoga jalan yang ia pilih yang terbaik untuknya. Semoga perempuan itu lebih jelas dibandingkan aku dan tidak menyakitkan seperti yang sebelumnya.
Tubuhnya bergerak perlahan. Ia terbangun. Aku langsung menaruh HPnya dan membantunya untuk duduk. Matanya sipit mengecil. Mukanya tidak sepucat pertama ia tertidur. Ia memintaku untuk duduk disebelahnya.
"Mamah masih belum pulang?" suaranya berat.
"Belum, bentar lagi mamah pulang. Ini minum dulu."
"Iya, makasih calon ibu perawat," ia tersenyum, menggapai gelas yang berada ditanganku. lalu meminumnya."
"Masih calon. Amin," jawabku.
"Iya mudah-mudahan tercapai neng," ia membalas.
Dalam hati aku pun berdoa, semoga cita-cita dan cinta ini tercapai dan diberikan jalan yang terbaik. Agar aku tak merasa sendiri, agar aku bisa merawatnya, agar kita bahagia. Meski halangan yang menghalangi, semoga doaku jadi doamu juga dan Allah tak menghalangi dan ijinkan doa kita. Semoga.

the end


Tidak ada komentar:

Posting Komentar