Aku melihatnya yang tertidur. Matanya menutup,
tubuhnya terlentang lemas. Raut
wajahnya yang pucat seolah ia sedang bermimpi buruk. Bukan, ia tidak sedang
bermimpi. Ia demam.
Aku duduk di kursi dekat jendela kamarnya.
Memerhatikan rambutnya, wajahnya, tubuhnya menampilkan kisah sebelumnya. Ia
membuat kisah kasih yang hampir tidak pernah lurus. Telah berulang kali ia
terjebak dalam kenangannya. Telah berulang kali juga aku merelakannya untuk
berjalan terlebih dahulu bersama dengan orang yang sesudahku.
Aku memerhatikan sudut-sudut kamarnya. Temboknya yang
kosong tanpa hiasan, sebuah lemari juga cermin dan meja kecil di sebelah
ranjangnya. Aku ingat ada sebingkai foto yang dulu masih disimpannya. Rapih di
atas meja kecil itu. Tapi kini lain. Meja itu diisi buku-buku juga celengan
kecilnya. Mengapa? Entahlah. Mungkin ia telah melepas kenangan itu. Kenangan
itu sebenarnya setelah adanya aku. Aku terlebih dahulu digenggamnya, bukan
kenangannya.
Lalu ingatanku dipaksa mengingat hal yang pernah mengikis
hati. Ia tinggalkan aku untuk hati yang lain, hati perempuan yang lebih baik
dari padaku. Tapi ketika hati itu hanya melihatnya sebelah mata, ia memilih
untuk kembali kepadaku dan mengatakan bahwa ia tak pernah satu dengan perempuan
itu. Apa yang membuatnya kembali? Lalu apa yang membuatku dengan mudah
mempersilahkan ia untuk kembali?
Angin berhembus
dari celah-celah jendela. Ia lepaskan aku pada ingatan yang hingga saat ini
membuat lirih.
Tak lama, angin berhenti meniup. Seketika ada yang
lain yang masuk dalam ingatan. Sial! Aku ingat ia membohongiku berulang kali.
Pernah dikala ia telah katakan tidak lagi bersamanya,
bersama kenangannya, mulutnya tertutup mengunci. Aku tak tahu lagi
mengapa-bagaimana ia bersama perempuan itu. Perempuan yang merampasnya dariku,
perempuan yang semua orang tah6u ialah yang pertama. Tapi bukan. Mereka tak
pernah tahu siapa yang paling awal.
Aku mengira bahwa mereka berpisah. Lalu ingatanku
terlempar pada suatu hari dimana aku melihat perempuan itu memeluknya. Disebuah
jalan yang pasti ia tahu itu jalan yang selalu aku lalui. Melihat mereka
bersama terguncang seketika. Apa yang ia lakukan?apa ia kembali? Apa mereka
tidak berhenti mencintai? Lalu apa yang ia katakan padaku? Kebohongan ataukah
tipuan?
Ia tak pernah selesai dengan kenangannya. Ia memilih
kembali. Meninggalkan siapa yang menunggunya. Lalu aku teringat dimana ia
datang kepadaku. Lagi. Berselang dua minggu dari kejadian itu, ia datang. Aku
melihatnya dibalik pintu rumah. Dengan senyum dan rambutnya yang selalu
berantakan, seperti orang yang selesai mandi. Aku balik tersenyum dan
memerhatikan rambut, wajah hingga ujung kakinya. Bersamaan dengan kebingungan.
Mengapa ia datang?
Sore itu ia menginginkan duduk disampingku. Tangannya
meraih tanganku. Tatapan kita bertemu. Detik-detik yang menghilang di hujan
kemarin. Kita terdiam. Tanganku merasakan hangat. Bibirnya meraih keningku. Ia
merindukanku, sama seperti aku merindunya.
"Kenapa?"
"Hmm gak
apa-apa."
"Ada yang gak
beres?"
"Iya"
Aku menunggu
kelanjutan jawaban "iya" darinya.
"Perempuan
itu, ia masih terlilit masa lalunya. Aku melihat ini di akun facebooknya.
Ditambah lagi, semuanya tidak berpihak padaku. Aku lelah berpura-pura kuat
didepannya. Ia keras kepala. Padahal ia tahu ibunya melarangnya bersamaku. Tapi
ia acuhkan perkataan itu," ceritanya sambil memperlihatkan postingan
perempuan itu.
Tidak berkata. Aku
membisu. Aku hanya menggenggam tangannya. Semoga sentuhanku mengatakan apa yang
ingin aku katakan.
Waktu berlalu. Senja datang. Rambutnya kini rapi, ia selalu memintaku
untuk merapihkan rambutnya. Ia pamit. Senyumannya di akhir pertemuan selalu
membuatku tersenyum malu. Lalu tangannya menarik tanganku. Membuat tubuhku
condong ke depan. Hanya beberapa detik membuat tubuhku didekatnya, terbenam
bersama kehangatan. Ia memelukku erat. Aku hanya bisa membalas pelukannya,
meski saat itu beribu tanya menghampiri. Semoga saja tanya itu terjawab dengan
jawaban indah tentang kisah ini.
Lamunan itu dibangunkan oleh dering telfon HPnya.
"Mamah" tulisan dilayar handphonenya.
"Halo, assalamu'alaikum. Neng masih dirumah?" suara
dibalik telfon itu.
"Iya masih mah.
"Aanya dimana?"
"Aa udah makan tadi terus tidur, Mah."
"Oh yaudah kalo kesorean pulang aja, nanti ibu khawatir.
Mamah juga
gak lama lagi pulang."
“oh iya Mah.”
“Makasih neng. Assalamualaikum.”
Mamahnya
benar. senja mulai turun berganti malam. Tapi ia masih tertidur.
Aku memegang HPnya. Melihat ada beberapa pesan masuk. Mataku mengarah pada satu pesan. Nama
pengirimnya "Mirah Ingsun". Aku ingat. Perempuan
yang dekat dengannya sekarang. Satu perempuan lagi yang
memaksaku untuk diam dan menggeserkanku. Aku
menghela nafas panjang. Berucap dalam hati semoga
jalan yang ia pilih yang terbaik untuknya. Semoga
perempuan itu lebih jelas dibandingkan aku dan tidak menyakitkan seperti yang sebelumnya.
Tubuhnya
bergerak perlahan. Ia terbangun. Aku
langsung menaruh HPnya dan membantunya untuk duduk. Matanya sipit mengecil. Mukanya
tidak sepucat pertama ia tertidur. Ia
memintaku untuk duduk disebelahnya.
"Mamah masih belum
pulang?" suaranya berat.
"Belum, bentar lagi mamah pulang. Ini minum dulu."
"Iya, makasih calon ibu
perawat," ia tersenyum, menggapai gelas yang berada ditanganku. lalu
meminumnya."
"Masih calon. Amin," jawabku.
"Iya mudah-mudahan tercapai neng," ia membalas.
Dalam hati aku pun
berdoa, semoga cita-cita dan cinta ini tercapai dan diberikan jalan yang
terbaik. Agar aku tak merasa sendiri, agar aku bisa
merawatnya, agar kita bahagia. Meski halangan yang menghalangi, semoga doaku jadi
doamu juga dan Allah tak menghalangi dan ijinkan doa kita. Semoga.
the end
Tidak ada komentar:
Posting Komentar